UMKM ilustrasi. foto net

telusur.co.id – Bupati Sumenep KH Ahmad Busyro Karim mengatakan, acara pameran UMKM harus banyak dikembangkan. Karena sedikit banyak akan membantu kendala pengembangan UMKM yang ada di Madura.

Menurut Busyro, setidaknya ada dua kendala yang dihadapi UMKM di Pamekasan dan Madura pada umumnya yaitu, kemasan (packaging) yang masih sederhana sehingga sulit untuk menembus pasar global. Dan yang kedua, masalah pemasaran yang kalah bersaing dengan perusahaan besar, akibat biaya produksi yang rata-rata lebih besar dibanding perusahaan besar untuk produk sejenis.

Namun tegas di, kendala-kendala itu bukan menjadi alasan bagi Kepala Daerah untuk berhenti membina UMKM. Di Pamekasan misalnya, Bupati Busyro telah menetapkan program 1.000 wirausaha muda, dengan alokasi biaya APBD sekitar Rp 15 miliar pertahunnnya, dan dilengkapi dengan inkubator.

“Ide atau gagasan seperti pameran ini adalah upaya kami untuk bisa memberikan ruang bagi produk UMKM nenembus pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, selaku Inisiator acara Madura Menjemput Asa Menembus Batas, mengatakan, secara umum empat Kabupaten di Madura (Sampang, Bangkalan, Sumenep dan Pamekasan) masih tertinggal dibanding wilayah lain.

Di pulau ini, ada 52.200 UMKM, 3.625  Koperasi dan 7.080 perajin batik dan total jumlah penduduk 4 juta jiwa. “Saya pikir jika  pembinaan kepada mereka dilakukan secara kontinyu, maka saya optimis Madura akan mampu mengejar ketertinggalan dibanding wilayah lain di Indonesia,” tegasnya.

Ia memberi contoh, batik madura yang hampir semuanya merupakan batik tulis,namun masih kalah populer dibanding batik Solo maupun Jogja. “Batik Madura kualitasnya sangat bagus,namun kurang promosi. Ini yang kami harapkan ada campur tangan dari pemerintah pusat bagaimana agar batik Madura ini bisa terangkat, misalnya dalam seminggu sekali, pegawai diwajibkan memakai batik Madura,” tambahnya.  (ham)

Bagikan Ini :