Diskusi "Mencari Solusi di Tengah Harga Pakan Ternak Ayam" di Jalan Media Communication (JMC) kawasan Matraman Jakarta, Kamis (29/11/18)/Tio P.

telusur.co.id- Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mehdi mengatakan, penyebab naiknya harga telur di pasar, lantaran harga pakan ayam yakni jagung, terlalu mahal.

“Bagaimana mekanisme struktur pembentukan harga telur. Dari biaya produksi kami yang bentuk telur per satu kilo itu berasal dari, yang membuat faktor harga itu adalah biaya pakan,” kata Ki Musbar dalam sebuah diskusi bertajuk “Mencari Solusi Ditengah Melambungnya Harga Pakan Ternak Ayam” digelar oleh Jalan Media Communication (JMC) di Kawasan Matraman, Jakarta, Kamis (29/11/18).

Menurut dia, Pemerintah seharusnya mampu menjaga harga-harga pakan. Sebab, dengan tingginya harga pakan ayam otomatis harga telur mengalami kenaikan.

“Kalau biaya pakannya tinggi biaya produksi itu akan meningkat. Di satu sisi akan membebani masyarakat,” tambahnya.

Saat ini kata dia, ketersediaan dan keterjangkauan harga pakan  sangat penting. Karena pakan merupakan utama dalam produksi ayam telur.

“Dimana bahan pakan penting harganya bisa dijangkau masyarakat. Bicara soal produksi tidak ada yang proteksi Umun. Kepentingan masyarakat umum itu sama denga kepentingan nasional. Biaya pakan 50 persen itu dari jagung,” paparnya.

Ki Musbar mengakui, permalasahan-permasalahan ketersediaan jagung pakan ayam layer tiap tahun yakni di bulan Agustus, September dan Oktober.

Oleh sebab itu, Ki Musbar meminta agar kementerian serta lembaga-lembaga terkait untuk memikirkan solusi bagi peternak layer dengan cara membuat perencanaan yang terkait Kebutuhan pakan nasional.

Pemerintah juga harus beperan aktif menyeleksikan seperti ini. Jika melihat dari komponen biaya pakan, 55 persen itu dari jagung yang sisanya adalah dari bahan pokok peternak unggas. Dan, pakan ini 35 persennya adalah impor.

“Impor nya hanya 35 persen, tapi berkontribusi sebanyak 70 persen terhadap 1 kilo harga pakan ditambah lagi jagung. Kandungan 55 persen itu akan berkontribusi berapa itu hanya sekitar 30-35 persen,” jelasnya.

“Memang kita tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada koordinasi dengan kementerian, BUMN dan segala macamnya adalah kita buat mapping kebutuhan jagung kita itu berapa?” tandasnya.[far]

Bagikan Ini :