Ahmad Doli Kurnia/Net

telusur.co.id – Korbid Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia mengatakan pernyataan yang disampaikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu bisa jadi benar, karena faktanya memang daya tarik Pilpres selalu lebih tinggi dibandingkan Pileg.

Ketika Pileg disandingkan dengan Pilpres, maka fokus isu dan wacana yang berkembang lebih luas terkait calon presiden dan wakil presiden ketimbang isu caleg dan partai politik.

Kemudian, dalam sistem pemilu sekarang pasangan calon presiden dan wakil presiden memang diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik.

Namun faktanya, sekalipun seorang capres atau cawapres diusung oleh gabungan beberapa partai politik, figur si capres dan/atau cawapres tetap tak bisa dilepaskan dari asal partai politiknya.

Asosiasi capres/cawapres terhadap partai politik asalnya tak terhindarkan. Itulah maka ada teori “coat tail effect” dan fakta dari beberapa survey juga menunjukkan bahwa partai politik asal capres/cawapres terdampak positif dari pencalonannya.

BACA JUGA :  Politikus Golkar Tak Sependapat Pernyataan Amien Rais Dibawa ke Hukum

“Partai Golkar sejak jauh-jauh hari sadar betul akan hal itu. Itulah kenapa kami sedikit “insist”, bekerja sangat serius mendorong Ketua Umum kami, Airlangga Hartarto sebagai cawapresnya pak Jokowi,” ungkap Doli, Sabtu.

Namun, bagaimanapun saat ini keputusan politik sudah diambil. Tidak ada yang perlu disesali. Golkar juga tak punya cukup waktu untuk mengeluh.

“The show must go on. Dan kita semua harus bertanggung jawab atas pilihan serta keputusan kita.”

Partai Golkar konsekuen dan tetap konsisten dengan keputusannya sebagai partai politik pertama yang mengusung kembali pak Jokowi sebagai calon presiden untuk masa bakti yang kedua, yang telah pula ditetapkan berpasangan dengan pak Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

BACA JUGA :  Bendera Golkar Berkibar Di Kampanye Prabowo, KM AMPG Desak Pelakunya Ditindak Tegas

Sekalipun memang efek pencalonan pak Jokowi kecil terhadap elektoral Partai Golkar, partai beringin sudah punya strategi sendiri untuk mengantisipasi itu.

“Kami di Bidang Pemenangan Pemilu telah mengkalkulasi dan memiliki beberapa skenario sejak pertama kali kami mencalonkan pak Jokowi dan juga saat kami mendorong pak Airlangga sebagai Cawapres. Kami sudah punya cara sendiri untuk memenangkan Pileg sekaligus Pilpres pada 17 April 2019 nanti.”

Golkar pun juga mengambil pelajaran berharga dari sistem Pemilu di 2019 ini. Pengalaman kali ini menghasilkan evaluasi untuk ke depan dalam menghadapi Pemilu 2024. “Kami sudah bertekad bahwa Partai Golkar harus memiliki calon presiden sendiri, dan akan kami matangkan pada Munas yang akan datang,” tuntasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini