Acara diskusi "Mengakhiri Polemik Politisasi Bendera" di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat.Kamis (23/11/18)/Fahri
telusur.co.id Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat mengatakan, sebenarnya pada awalnya tidak ada terminologi “bendera tauhid”. Kata “bendera tauhid” sendiri menurutnya baru muncul klsetelah ada pembakaran bendera pada peringatan hari santri pada Senin (22/10/18) lalu.

“Penggunaan kata-kata bendera tauhid itu baru ada setelah pembakaran di hari Santri,” kata Imdad dalam diskusi Kaukus Muda Indonesi (KMI) bertajuk ‘Mengakhiri Polemik Politisasi Bendera’ di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/18).

Sebaiknya, kata Imdad, bendera dengan kalimat tauhid tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. Umat Islam harus mengembalikan kalimat tauhid tersebut menjadi milik semua umat.

BACA JUGA :  Sejumlah Organisasi Khawatir Pembakaran Bendera Kalimat Tauhid Dipolitisasi

Diapun menyayangkan, kalau selama ini pemakaian bendera bertuliskan kalimat tauhid hanya dimonopoli oleh kelompok-kelompok yang dikenal radikal.

“Supaya tidak terjadi kesan atau asosiasi bahwa kalimat tauhid hanya dipakai kelompok radikal,” tambah Mantan Ketua Komnas HAM itu.

Diapun menceritakan, simbol-simbol atau bendera dengan kalimat tauhid selama ini dipakai oleh kelompok radikal seperti Al Qaida, Jabhat Nusra di Suriah, ISIS dan Hizbut Tahrir.

“Simbol-simbol yang mulia kita itu dibajak oleh kelompok orang yang sama sekali tidak mewakili Islam,” tandasnya.[sep]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini