KH. Sunardi Syahuri, Ktua Dewan Dawah Islamiyah Indonesia Yogyakarta /Istimewa

Oleh : Ida Nurlaila

 

Sekitar tahun 1999, saya tinggal di kota Jogja, menjadi pegiat pengajian kampung di wilayah kota Jogja. Rumah kami di kawasan Warungboto, hanya berjarak kurang dari 1 km dengan kediaman Ustadz Sunardi Syahuri. Beberapa kali saya sowan, meminta beliau mengisi pengajian. Maa syaa Allaah, nama besar tidak membuat beliau memilih-milih forum saat menerima permintaan ceramah.

“Ustadz, nanti tindak sendiri atau dijemput?” tanya saya dengan lugu. Padahal kalau beliau minta dijemput, paling saya akan minta tolong suami untuk menjemput cuma dengan motor butut.

“Dijemput!” jawab ustadz Sunardi dengan mantap, yang membuat saya agak ‘njomblak.’

“Syaratnya, jemput dengan sepurr (kereta)!” lanjut beliau. Whahaha… beliau tertawa renyah melihat muka saya. Jadinya saya ikut tertawa. Begitulah candaan beliau. Tentu tak ada kereta api sampai lokasi taklim. Artinya beliau akan hadir sendiri tak perlu penjemputan. Kesungguhan, keikhlasan, tanpa jarak dengan semua kalangan, itulah diantara karakter beliau.

Lalu saat saya sudah pindah rumah di daerah Bantul, beliau sempat hadir di acara tabligh akbar penggalangan dana untuk pembangunan Paud Aisyah, persis di samping rumah kami. Sayangnya weekend itu kami sedang beredar entah di mana, hanya mendapat cerita bahwa jama’ah membludag memenuhi halaman rumah kami.

“Nderek Pak Nardi” (ikut Pak Nardi) demikian embah-embah di kampung kami menyebut beliau dengan bangga.

“Mbenjang Ahad nderek Pak Nardi teng kilen Pragi,” (hari Ahad besok saya ikut Pak Nardi ke Kulon Progo) kata embah langganan pijat sembari memijatku, “Kulo ajeng tilik mesjid kulo…”

Jadi kisahnya, ustadz Sunardi adalah pegiat wakaf sarana ibadah dan sarana pendidikan. Entah berapa masjid dan berapa sekolah yang beliau menjadi kontributor dalam pengadaan dan pembangunan. Naah para embah di kampungku ikut menyumbang salah satu masjid di kawasan Kulon Progo. Mereka bahagia ikut berwakaf barang 1 meter, bahkan dengan mencicil beberapa kali. Setelah bangunan masjid berdiri dan diresmikan, panitia akan mengundang Ustadz Sunardi lagi dan begitulah para pewakaf ikut hadir menyaksikan masjid sudah berdiri.

“Saya nunut sak daplangan,” begitu kata-kata sederhana beliau yang masuk logika orang kecil, “Besok bisa cukup untuk berbaring sama Bu Pamella.”

Beliau mengikrarkan di depan jamaah, beliau berwakaf beberapa meter untuk punya kapling berdua di akhirat dengan Bu Pamella, istri beliau. Padahal apa yang beliau sumbangkan jauh lebih banyak dari itu. Namun perumpamaan ‘sak daplangan’ itu membuat masyarakat kecil merasa bersemangat bahwa wakaf barang semeter dua meter insya Allah menjadi tabungan akhirat.

Mungkin ribuan bahkan jutaan orang yang tergerak berwakaf termotivasi oleh beliau.

Hari ini –Senin 12 November 2018–Jogjakarta berduka, ribuan orang bertakziyah, menyolatkan, dan menangis mengiringi kepergian beliau. Berduyun pengantar jenazah dari berbagai kalangan, long march, dari masjid tempat disemayamkan hingga pemakaman yang berjarak cukup jauh. Berduyun seperti jamaah manusia yang terbuka hati oleh ceramah beliau.

Ayahanda, semoga kami dapat merawat amanahmu, meneruskan perjuanganmu dan menjaga persatuan umat sebagaimana yang engkau contohkan selama ini. Ayahanda, kami semua menangis. Bukan menangisi kepergianmu, sebab kami yakin engkau pergi dengan tersenyum untuk bertemu Rabbmu dengan membawa seluruh amal sholih yang sulit kami kejar.

Kami menangisi diri kami sendiri yang tak jua bisa meniru kebaikanmu. Kami menangisi dakwah yang kehilangan salah satu batu bata penting. Akankah kami bisa menggantikanmu?

Sugeng Tindak Pak Nardi…..

Takziyah Alm. KH Sunardi Syahuri. Sepanjang jalan menuju rumah beliau berjajar karangan bunga. Para petakziyah berjubel antri panjang untuk menjabat tangan keluarga. Di masjid, sebelah rumah beliau, hampir setiap 5 menit para jamaah memenuhi bagian dalam dan luar untuk shalat jenazah. Untuk keluar pulang pun, para petakziyah harus antri lagi melewati jalan di sebelah rumah beliau. Semua ingin memberikan penghormatan terakhir sekaligus doa terbaik untuk beliau.

Masya Allah, tanda cinta masyarakat untuk beliau membuat saya merinding. Kepergian beliau membuat banyak orang merasakan kehilangan. Kehadiran dan ketulusan doa mereka adalah saksi betapa mulianya beliau di sisi Allah SWT.

Sugeng tindak Pak Nardi. Telah tuntas tugas-tugas Bapak di dunia. Selamat menyambut indahnya rumah Allah dengan suka cita. Husnul khatimah insya Allah….

Bapak banyak menginspirasi banyak orang untuk menebar kebaikan, bersikap rendah hati, dan selalu tersenyum untuk dunia. Subhanallah…… (noe)

Yogyakarta, 12.11.2018

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini