Anggota Fraksi NasDem MPR RI, Johnny G Plate (kiri) dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) dan Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin (kanan).

telusur.co.id- Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, kampanye Pilpres 2019 saat ini hanya diwarnai dengan pencitraan antar kandidat. Bahkan, kampanye juga cenderung saling “membusuki” lawan politik demi meraih simpati dan dukungan masyarakat .

“Ini paling bahaya, yaitu membusuk-busuki lawan politik. Jadi, membangun pencitraan dan membusuki lawan,” kata Ujang kepada wartawan, Rabu (14/11/18).

Menurut Ujang, cara-cara seperti itu hendaknya segera ditinggalkan, karena, sangat jauh dari esensi demokrasi. Bahkan, cara seperti itu tidak produktif bagi masyarakat.

Hendaknya, baik capres-cawapres maupun timses, berkampanye siap program, visi-misi dari para kandidat.

BACA JUGA :  Debat Kedua, KPU Akan Gelar FGD Untuk Perkaya Khasanah Panelis

“Makanya politik kita tidak diisi dengan hal-hal yang substantif, cenderung mengarah kepada pertarungan tanpa ide dan gagasan,” tegasnya.

Di sisa masa kampanye, Ujang menyarankan, kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi lebih mengedepankan membangun citra diri dengan cara-cara yang berkualitas.

“Poin-poin inilah yang harus disadari, dimiliki kebesaran jiwa oleh capres-cawapres dan pendukungnya tersebut. Jadi bukan poin nomor dua yang dikembangkan untuk membusuki lawan tapi yang pertama, yakni membangun pencitraan dengan cara pengembangan visi misi dan program-program paslon,” ungkap Ujang.

“Dengan begitu masyarakat akan tercerahkan. Masyarakat diarahkan, dibimbing kepada hal-hal yang memang memiliki kualitas yang tinggi. Sehingga demokrasi kita memiliki nilai-nilai yang berkualitas tadi. Karena hari ini yang dikembangkan yang tadi, nomor dua itu (saling membusukkan),” pungkasnya.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini