(Konperensi Pers Nasional Corruption Wacth (NCW). FOTO: telusur.co.id/Tio Pirnando)
telusur.co.id- Wajah Pengadilan Negeri (PN) di Tanah Air dinilai kembali tercoreng. Usai KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, indikasi serupa juga terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Hal ini diungkap oleh Ketua Umum Nasional Corruption Wacth (NCW), Syaiful Nazar saat jumpa pers, di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (4/11/18).
Salah satu kasusnya yang dianggap mencoreng wajah penegak hukum, ialah perkara penipuan dan penggelapan uang senilai Rp 3 miliar dengan terdakwa Deby Laksmi Dewi yang saat ini digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Parahnya, ujat dia, terdakwa hingga saat ini tidak juga ditahan oleh Jaksa PN Jakut. Padahal, menurut Syaiful, terdakwa saat ini masih menjalani hukum percobaan atas kasus perzinahan.
“Sebelum kasus penipuan dan penggelapan, yakni pasal 372 dan 378, terdakwa tengah menjalani hukuman kasus perzinahan yaitu pasal 284. Seharusnya selama menjalani hukuman masa percobaan, terdakwa tidak boleh melakukan pelanggaran hukum lagi. Jika itu dilanggar, terdakwa seharusnya dipenjara. Nah yang jadi pertanyaan, kenapa terdakwa sampai saat ini masih bebas,” papar Syaiful.
Ditempat yang sama,  Dewan Pakar NCW Ismail Ibrahim mengungkapkan, kejanggalan lainnya. Dimana, penanganan perkaranya dilakukan oleh hakim yang sama. Padahal,  kasusnya berbeda yakni kasus kedua, penipuan dan penggelapan, dan yang pertama  yakni perzinahan.
“Ini kan aneh. Kok hakim yang menangani hal ini sama,” kata Ismail.
Untuk itu, NCW akan melayangkan permohonan pengawasan persidangan kepada Ketua Komisi Yudisial (KY) hingga Ketua Mahkamah Agung (MA)
 “Kami menduga adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh oknum hakim Kejaksaan Negeri Jakarta Utara yang sedang menangani perkara pidana dengan terdakwa Debi Laksmi Dewi yang didakwa melakukan perbuatan pidana penggelapan dan penipuan uang sebanyak Rp 3 Millar terhadap Adi Putra Prajitna sebagai korban,” ucapnya.
Sebagai informasi, Deby Laksmi Dewi dilaporkan karena menggelapkan uang hasil penjualan 3 kontainer daging kerbau impor beku yang dibelinya dari Bulog seharga Rp3.05 M. Korban, Adi Putra Prajitna yang merasa dirugikan minta perlindungan hukum ke Jaksa Agung, yang dalam suratnya tertanggal 15 Agustus.
Perusahaan tempat korban bekerja menitipkan 3 kontainer daging tersebut setelah Deby merengek ingin menjadi distributor daging kerbau itu dan hasil penjualannya akan diserahkan ke perusahaan tempat Amanda.
Setelah laku semua hanya sebagian uang penjualan diserahkan sisanya lebih dari Rp3 M. Namun Deby tidak mau menyerahkan dengan alasan orang yang mengambil daging ke tersangka tidak ada yang bayar.
Karena jalan musyawarah tidak membuahkan hasil, Deby dilaporkan ke Polres Jakarta Utara, dengan LP/1282/K/XI/2017/PMJ Resju tanggal 6 Nopember 2017, dengan sangkaan Pasal 372 Jo. Pasal 378 KUHP, dan langsung ditetapkan menjadi tersangka serta ditahan selama 20 hari.
Pihak kepolisian melimpahkan kasus Deby Laksmi Dewi ke Kejaksaan Jakarta Utara, namun di kejaksaan tersangka tidak ditahan alias menjadi tahanan Kota wajib lapor. [far]
Bagikan Ini :