Presiden Amerika Serikat (USA) Donald Trump (kiri) dan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani (kanan)/Net

telusur.co.id – Keputusan Presiden AS Donald Trump yang menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran, membuat Presiden Iran Hassan Rouhani berang. Rouhani menuduh sikap Amerika sebagai bentuk “terorisme ekonomi”.

“Sanksi Amerika yang tidak adil dan ilegal terhadap negara Iran adalah contoh nyata terorisme,” katanya kepada pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh pejabat tinggi legislatif dari Iran, Cina, Rusia, Turki, Afghanistan dan Pakistan dilansir aljazeera.com

Rouhani mengatakan bahwa intensitas AS terhadap Iran “terbukti”, ketika Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015, juga dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

Dia juga menuduh administrasi Trump mencoba “menimbulkan ketakutan” di antara negara-negara lain untuk mencegah mereka berinvestasi di Iran.

Pada bulan Mei, Trump mengumumkan keputusannya untuk mundur dari kesepakatan nuklir. Itu membuka jalan bagi kembalinya sanksi AS, yang datang dalam dua fase pada bulan Agustus dan November.

Putaran pertama sanksi menargetkan penerbangan Iran serta perdagangan emas dan mata uang. Putaran kedua pada bulan November diarahkan pada ekspor minyak dan industri perbankannya.

Negara-negara dan perusahaan-perusahaan yang tidak berbasis di AS menghadapi sanksi keras oleh AS jika mereka terus melakukan bisnis dengan Iran. Namun, AS juga mengeluarkan keringanan ke beberapa negara, yang memungkinkan mereka untuk terus membeli minyak Iran.

Sanksi AS telah menyebabkan berkurangnya investasi asing di Iran dalam beberapa bulan terakhir, memaksa banyak perusahaan untuk menutup operasi mereka, sementara juga menyebabkan mata uang Iran merosot dan memicu inflasi.

Sanksi AS, serta panggilan oleh beberapa penasihat Trump untuk menjatuhkan rezim Iran, telah memicu lebih banyak ketegangan dan retorika tajam antara kedua negara. (ham)

Bagikan Ini :