Temu professor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Bandung. FOTO: Dok. Kemenag

telusur.co.id- Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama menggelar Islamic Higher Education Professors (IHEP) tahun 2018 di Bandung. Temu professor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ini merupakan gelaran kali kedua dengan tema “Membingkai Agama dan Kebangsaan”.

Summit yang berlangsung dari 7 – 8 Desember ini dibuka oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin yang sekaligus menyampaikan keynote speech. Ia mengajak para Guru Besar PTKIN agar lebih aktif merespons isu-isu aktual di masyarakat. Para professor diminta ikut merespon sekaligus memberi tawaran solusi atas beragam dinamika ke ummatan masa kini. Misalnya, terkait ekstrimisme, dakwah di era digital, bendera bertuliskan kalimat syahadat, hingga Perda Syariah.

“Para Guru Besar seharusnya tidak hanya asyik di menara gading, tetapi juga terlibat dalam isu-isu publik agar terasa manfaatnya,” tegas Lukman dalam keteragannya, Sabtu (8/12/18).

Lebih spesifik, Lukman meminta guru besar PTKI mampu tampil dengan baik untuk memberikan solusi atas problem negara di era revolusi industri 4.0, utamanya terkait disrupsi teknologi dan informasi.

Hal senada disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin. Dalam laporannya, Kamaruddin mengatakan bahwa IHEP kedua digelar di tengah kerinduan negara terhadap kehadiran akademisi.

“Bukan akademisi menara gading yang abai atas dinamika negerinya, tapi akademisi yang hirau atas nasib bangsa dan negaranya,” tuturnya.

IHEP pertama digelar di Jakarta awal Desember 2015. IHEP Summit kali ini dimaksudkan untuk memperkuat sumbangsih pemikiran guru besar PTKI kepada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif melalui penelaahan kritis atas isu terkini nasional sesuai kepakaran masing-masing.

Tema “Membingkai Agama dan Kebangsaan”, kata Kamaruddin mendesak untuk mendapatkan respon akademik dari para guru besar atau profesor PTKI menyusul beberapa fenomena penting.

Pertama, belum selesainya relasi antara agama dan kebangsaan di negeri ini yang ditandai oleh kasus menyeruaknya ideologi dan gerakan yang berorientasi untuk mengganti Pancasila dengan idoelogi lain.

Kedua, menguatnya fenomena globalisasi yang ditandai oleh kemajuan peradaban teknis-material yang membuat referensi ideologi dan praktik domestik mendapatkan tantangan dari luar.

IHEP dihadiri 100 Guru Besar PTKIN. Ada tiga pembicara, yaitu: Nadirsyah Hosen, Haidar Bagir, dan Radhar Pancadahana. Diskusi dipandu langsung oleh Direktur PTKI Arskal Salim.[Ham]

Bagikan Ini :