FOTO: Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago

DUA bulan masa kampanye, ruang publik kita cederung diisi oleh kebisingan yang penuh dengan sensasi.

Narasi dari kedua capres dan timnya, masih berkutat pada isu murahan yang jauh dari substansi dan belum menyentuh soal-soal yang berhubungan langsung dengan isu utama, apa yang menjadi kebutuhan dan problem rill yang sedang dihadapi rakyat.

Isu-isu murahan ini, secara tidak langsung menunjukkan kuliatas dan kapasitas pasangan capres yang sekarang sedang bertarung.

Kedua pasangan capres seperti gamang untuk menyampaikan visi, misi dan program nyata yang akan ditawarkan kepada pemilih.

Situasi ini pada akhirnya membuat kita curiga, jangan-jangan kedua capres ini memang tidak punya kapasitas yang memadai untuk berdebat dalam hal-hal yang lebih substansial? Sehingga mereka lebih suka melakukan hal yang remeh temeh dan tetek benget.

Lebih parahnya lagi, situasi ini menular pada tim sukses dan juru bicara dari kedua tim. Kedua tim sepertinya lebih suka melakukan pembelaan secara mati-matian ketimbang memberikan saran dan masukan yang lebih produktif, berbobot pada jagoannya.

Kedua tim melakukan pembelaan membabi buta. Bahkan, terkadang melakukan perdebatan yang tidak pantas dipertontonkan dihadapan publik. Mulai dari pemilihan kata, menyerang karakter dan pribadi seseorang sampai pada caci maki.

Setali tiga uang, penyakit politisi ini juga menular pada masyarakat secara luas akibat terpapar tontonan tidak mendidik dari politisi dan para jubir kemaren siang yang miskin dealetika dan retorika berfikir.

Belum mampu mengendalikan diri dan lebih bijak menahan diri menghadapi bermacam persoalan. Pembelahan sosial yang semakin tajam di masyarakat, tentu sangat tidak produktif jika dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut.

Pangkal perkara dari situasi ini adalah dangkalnya narasi, literasi dan imaginasi dari kedua capres. Sayangnya, virus tersebut juga menular kemana-mana.

Situasi semacam ini tentu tidak akan terjadi jika kita punya calon pemimpin berkelas dan punya kapasitas. Sebut saja misalnya, nama seperti Mahfud MD, Rizal Ramli, Anies Baswedan, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo dan sederet nama lain yang punya kapasitas melahirkan ide dan perdebatan berkualitas.

Namun lagi-lagi aturan pemilu terkait presiden threshold menjadi kebuntuan politik yang menghambat putra-putri terbaik bangsa yang berkelas tampil ke-panggung politik yang lebih tinggi.[***]

Penulis: Pangi Syarwi Chaniago (Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting)*

Bagikan Ini :