Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu/foto|net

telusur.co.id- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberitahu Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai tindakan keras yang diambil oleh Israel di sepanjang perbatasannya di Lebanoin mengenai terowongan-terowongan yang dikatakannya digali oleh Hizbullah, kata Kremlin pada Sabtu.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (8/12/18), Netanyahu mengatakan pekan ini bahwa terowongan-terowongan itu dimaksudkan digunakan oleh para pejuang Hizbullah untuk menyusup ke Israel dari Lebanon dan melancarkan serangan-serangan.

Militer Israel mengerahkan alat-alat penggali mekanik, tentara dan peralatan anti terowongan ke perbatasan untuk menutupnya.

Selama pembicaraan lewat telepon, yang diprakarsai Netanyahu, “Presiden Rusia menekankan pentingnya menjamin stabilitas di kawasan itu,” demikian pernyataan Kremlin.

Seorang juru bicara Netanyahu tak segera memberikan komentar.

Karena posisi kuat Rusia dengan para sekutu Hizbullah di Suriah yang bertetangga, Israel mungkin mengusahakan pemahaman bagi langkah-langkah paling terbarunya terhadap kelompok Syiah tersebut.
Rusia telah memberikan dukungan bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang saudara di Suriah. Hizbullah Lebanon juga membantu Bashar, sebagaimana Iran sebagai pendukungnya.

Israel talah menjauhkan diri dari konflik Suriah, tetapi telah melancarkan puluhan serangan udara terhadap apa yang dikatakannya pengiriman senjata canggih kepada Hizbullah. Israel pernah berperang dengan kelompok Syiah itu tahun 2006.

Israel khawatir Iran, musuh bebuyutannya di kawasan, menggunakan konflik Suriah untuk mempertahankan pasukannya di Suriah secara permanen dan berjanji akan menghentikan Teheran dari melakukan hal tersebut.

Hubungan antara Rusia dan Israel renggang sejak September, ketika Rusia menuduh Israel secara tidak langsung menyebabkan jatuhnya jet militer Rusia oleh pertahanan udara Suriah setelah serangan nudara Israel di dekatnya.

Pada Oktober, Moskow mengatakan pihaknya telah mengirim peluru-peluru kendali permukaan-ke-udara S-300 ke Suriah, tempat Israel telah menyerang sasaran Iran. Pasukan Sementeara Pemelihara Perdamaian PBB (UNIFIL) membenarkan keberadaan sebuah terowongan dekat tapal batas “Garis Biru” antara Israel dan Lebanon pada Kamis, melukiskannya sebagai “peristiwa serius”.

Situasi itu sejauh ini tetap tenang di kedua sisi perbatasan itu. Tetapi operasi Israel tersebut telah menarik perhatian kepada perlintasan di perbatasan yang Israel dan Hizbullah berperang tahun 2006.

Militer Israel telah mengatakan aktivitasnya akan berhenti di sisi perbatasan Israel untuk sekarang. Tetapi seorang anggota kabinet mengatakan pada Jumat bahwa Israel siap mengambil tindakan di Lebanon terhadap terowongan-terowongan lintas betas jika dipandang perlu.[tp]

Bagikan Ini :