Ade Reza Hariyadi dalam Diskusi Publik bertajuk "Indonesia Darurat Hoaks: Siapa Untung?" di aula DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (10/1/19).FOTO:Istimewa

telusur.co.id – Hoaks atau informasi palsu biasanya marak pada proses-proses persaingan politik. Misalnya di Pilkada DKI Jakarta, kontestasi Pilpres dan pilkada-pilkada di sejumlah daerah.

Begitu dikatakan Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Hariyadi dalam Diskusi Publik bertajuk “Indonesia Darurat Hoaks: Siapa Untung?” di aula DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (10/1/19).

Reza menduga, ada keuntungan politik dan ekonomi yang coba didapat para pelaku dari hoaks yang dibuat dan disebarkannya.

“Karena itu saya menduga di balik hoaks itu ada pollitical gain dan economic gain. Keuntungan politik dan keuntungan ekonomi yang coba didapat oleh para pelaku,” kata Reza

Reza menjelaskan, keuntungan politik biasanya terkait dengan kepentingan untuk memperkokoh legitimasi pihak-pihak di balik itu atau mendeligitimasi yang menjadi lawan politiknya.

“Karena formula ajaib tentang rumus untuk berkuasa ada tiga, yakni dikenal, disukai dan dipilih. Maka hoaks menjadi instrumen yang sangat strategis untuk membangun stimulasi perasaan-perasaan tentang suka dan tidak suka tadi,” terang Reza.

Selain political gain, lanjut dia, ada economic gain. Economic gain ini biasanya keuntungan-keuntungan yang bersifat ekonomi seperti keuntungan finansial.

“Nah disinilah kemudian peran dari pelaku bisnis hoaks ini menjadi relevan untuk diperbincangkan,” katanya.

Pertanyaannya, kata Reza, kenapa hoaks ini efektif pengaruhnya? Menurutnya, pertama, karena sosial media punya daya jangkau yang luar biasa, punya karekteristik yang unik, anonimity nya luar biasa, spektrum jangkauannya luar biasa, dan bisa langsung individu ke individu.

“Sehingga dampaknya luar biasa, baik positif maupun negatif. Sehingga kita tidak boleh menjudge bahwa ini hanya negatif saja tapi juga ada positifnya dari komunikasi massa melalui sosial media,” kata dia.

Selain itu, kata dia, orang tidak lagi tertarik untuk memvalidasi fakta-faktanya, tetapi lebih tertarik untuk memperbincangkan opini yang diinterpretasikan secara terus menerus dan membentuk satu plot tertentu yang kepentingannya adalah untuk membentuk sentimen suka dan tidak suka.

“Jadi tidak lagi peduli untuk memverifikasi fakta, tetapi kita diarahkan untuk mempercayai plot tertentu yang outputnya adalah rasa suka dan tidak suka,” tandasnya. [ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini