telusur.co.id – Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merilis hasil risetnya terkait proyeksi Indonesia ke depan, jika salah satu pasangan capres-cawapres menang dalam kontestasi Pilpres 2019.

Direktur LPI Boni Hargens mengungkapkan, jika pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin menang dalam Pilpres April 2019 mendatang, dari segi politik, penekanan pada aspek kerja membuat kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf adalah kepemimpinan transformatif yang berorientasi pada kerja untuk menciptakan perubahan dan transformasi di segala matra.

“Strategi kampanye yang memakai pendekatan ‘positive campaign’ mencerminkan pemerintahan Jokowi nantinya dibangun di atas optimisme dan berpotensi membawa Indonesia pada level kemajuan yang lebih tinggi, baik di tingkat kawasan maupun dunia,” kata Boni di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (4/1/19).

Menurut Boni, isu kampanye yang diangkat pasangan capres-cawapres nomor urit 01 membentuk watak kepemimpinan Jokowi ke depan yaitu sebuah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Disamping itu, tambah Boni, Partai pendukung Jokowi adalah partai nasionalis yang mengusung wacana atau narasi politik kebangsaan yang berorientasi pada pembangunan integrasi sosial atas dasar empat pilar (Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika).

“Hal ini akan membentuk kepemimpinan yang nasionalis dan inklusif,” ujar Boni.

Kemudian, dari segi sosial dan budaya, Boni menilai Jokowi-Ma’ruf Amin dapat membangun kebebasan sipil baik dari segi toleransi, keragaman, kebebasan berpendapat, maupun terjaminnya hak-hak asasi manusia.

Sedangkan dari dimensi ekonomi, Boni memprediksi, Jokowi-Ma’ruf akan menguatkan konsep ekonomi kerakyatan. Dimana, konsep tersebut merupakan arus baru perekonomian Indonesia yang dianggap sebagai jalan terbaik.

“Fokus ekonomi kerakyatan, mengatasi ketimpangan. Ekonomi keumatan, tidak hanya didasarkan pada hukumpasar, tetapi solidaritas yang bersumber pada religiositas,” katanya.

Sementara itu, kata Boni, pasangan Prabowo-Sandi sangat kuat dalam retorika ketika berkampanye. Bahkan menurutnya, mereka berhasil membangun persepsi masyarakat secara cepat, dan mempengaruhi emosi kolektif masyarakat.

“Hal ini positif untuk memenangkan pertarungan politik,” kata Boni.

Hal positif lainnya, kata Boni, Prabowo-Sandi bisa menjadi pemimpin yang membakar emosi rakyat dalam melawan musuh dari luar, meskipun akan cenderung mengabaikan kondisi di dalam.

“Dengan kata Iain, kepemimpinan yang lahir nantinya adalah kepemimpinan yang looking outward, namun kurang melihat ke dalam (looking outward).” [ipk]

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini