International Institute for Sustainable Development (IISD’s) Indonesia, Philip Gass, dalam sebuah diskusi bertajuk "Selepas Bahan Bakar Fosil, Transisi Fiskal Indonesia" di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (31/1/19).FOTO:telusur.co.id

telusur.co.id- Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat menjadi salah satu sektor yang memimpin diversifikasi ekonomi dan transisi fiskal untuk meninggalkan bahan bakar fosil.

Demikian disampaikan oleh Senior Policy Advisor and Lead of International Institute for Sustainable  Development (IISD’s) Indonesia, Philip Gass, dalam sebuah diskusi bertajuk “Selepas Bahan Bakar Fosil, Transisi Fiskal Indonesia” di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (31/1/19).

Philip menjelaskan, biaya teknologi energi EBT saat ini sudah kompetitif. Dan, secara internasional jauh lebih disukai dibandingkan dengan bahal bakar dari fosil.

“Khususnya dari sisi biaya maupun dampaknya dalam bentuk polusi udara dan kesehatan masyarakat,” ujar Philip.

BACA JUGA :  Manfaatkan ETB, Bahan Bakar Fosil Diharapkan Ditinggalkan

Pemerintah Indonesia, kata Philip, telah mengumumkan targetnya untuk meningkatkan porsi ETB di dalam bauran pasokan energi dari 7 persen pada 2015 menjadi 23 persen pada 2025. Namun, hal itu mengalami kendala dalam mencapai target tersebut.

Philip mengakui, Indonesia diberkahi dengan berbagai sumber EBT seperti panas bumi, sudah dan angin.

Lebih jauh, Philip menuturkan, untuk sektor panas bumi di Indonesia, perlakuan fiskal masih serupa dengan yang diterapkan pada sektor minyak dan gas, dalam hal skema  untuk pendapatan pajak dan bukan pajak.

“Pendapatan dari sektor panas bumi relatif stabil dibandingkan dari minyak dan gas yang fluktuatif. Namun, ukurannya sesuai dengan peran kecilnya di dalam produksi energi,” paparnya.

BACA JUGA :  Manfaatkan ETB, Bahan Bakar Fosil Diharapkan Ditinggalkan

Philip juga menyarankan, jika Indonesia ingin menumbuhkan pendapatan dari sektor EBT, diperlukan penghapusan subsidi konsumsi dan produksi bahan bakar fosil dan listrik. 

“Serta penciptaan iklim investasi yang kondusif,” tandasnya. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini