Jokowi didesak batalkan remisi pembunuh wartawan Bali / Ist

telusur.co.id – Puluhan jurnalis di Bekasi melakukan aksi demonstrasi menolak keputusan remisi yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada terpidana seumur hidup, I Nyoman Susrama, pelaku pembunuhan terhadap wartawan Radar Bali, Anak Agung Ngurah Bagus Narendra Prabangsa, 11 Februari 2009 lalu.

Koordinator Solidaritas Jurnalis Bekasi, Jiovanno, dalam orasinya di Bekasi, Rabu (30/1/19), mengatakan, hari ini seluruh solidaritas jurnalis Bekasi melakukan aksi demonstrasi di depan Patung Kuda, Jababeka, Cikarang, guna menentang remisi pembunuhan terhadap jurnalis yang sangat keji ini.

“Aksi ini tidak hanya berlangsung di Bekasi, namun dilakukan jurnalis nasional. Karena remisi ini dinilai langkah mundur dalam kebebasan pers,” kata Jiovanno, jurnalis Harian Cikarang Ekspres/Jawa Pos Group.

Selain menggelar Solidaritas Jurnalis, mereka juga menolak kedatangan Presiden Jokowi ke Cikarang, untuk mengadakan kunjungannya.

BACA JUGA :  Utak Atik Cawapres Jokowi, Kekuatan Islam Dianggap Sebagai Kunci

“Penolakan tersebut lantaran Presiden Jokowi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 tahun 2018 memberikan remisi terhadap I Nyoman Susrama selaku terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali (Jawa Pos Group) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa,” kata Jiovanno didampingi Andi, jurnalis Radar Bekasi/Jawa Pos Group.

Ia mengungkapkan, kasus pembunuhan wartawan Anak Agung Ngurah Bagus Narendra Prabangsa ini salah satu dari sekian kasus pembunuhan wartawan yang terungkap di Indonesia.

“Ini salah satu kasus yang kemunduran hukum. Khususnya mencederai kebebasan pers,” katanya.

Sementara itu, informasi yang diterima telusur.co.id, hari ini Presiden Jokowi melakukan silaturahmi dan dengar pendapat dengan wirausaha atau pengusaha se-Bekasi Raya yang diselenggarakan di Holiday Inn Hotel – Jababeka Cikarang.

Namun acara tersebut batal, karena Presiden Jokowi lebih memilih blusukan ke Kecamatan Muara Gembong.

BACA JUGA :  Mahfudz Siddiq Tak Setuju Anies Baswedan Tinggalkan Tugasnya Di Jakarta

Dalam aksi demonstrasi itu, para jurnalis tegas menolak pemberian remisi tersebut sebagai wujud cerminan ketidakadilan bagi seluruh insan pers di Indonesia.

“Pemberian remisi juga merupakan penodaan terhadap kebebasan pers,” kata Penanggungjawab Aksi, Arfan Ahmad, yang juga Pimpinan Redaksi Karawang Bekasi Ekspres/Jawa Pos Group.

Dikatakan Arfan Ahmad, seharusnya Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri menuntaskan delapan kasus yang menimpa insan pers, yang hingga kini belum dituntaskan.

Delapan kasus lainnya belum tersentuh hukum, di antaranya adalah Fuad M. Syarifuddin (Udin) wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, dan kasus wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010). [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini