Komnas Perempuan meminta agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan.FOTO:Istimewa

telusur.co.id – Komnas Perempuan menyayangkan ekspos yang berlebihan pada perempuan (korban) prostitusi online, sehingga besarnya pemberitaan melebihi proses pengungkapan kasus yang baru berjalan.

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin mengayakan, pemberitaan seringkali mengeksploitasi korban, membuka akses informasi korban kepada publik, sampai pemilihan judul yang pada akhirnya membuat masyarakat berpikir bahwa korban ‘pantas’ menjadi korban kekerasan dan pantas untuk dihakimi.

“Oleh karena itu, Komnas Perempuan meminta agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan,” kata Mariana di Jakarta, Selasa (8/1/9).

BACA JUGA :  PPP Dorong Polisi dan Kominfo Berantas Prostitusi Online

Dia juga meminta keada pihak media agar tidak mengeksploitasi perempuan yang dilacurkan, termasuk dalam hal ini artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online

“Agar media menghentikan pemberitaan yang bernuansa misoginis dan cenderung menyalahkan perempuan,” ujarnya.

Diapun meminta, masyarakat tidak menghakimi secara membabi buta kepada perempuan korban ekspoitasi industri hiburan.

“Semua pihak diminta untuk kritis dan mencari akar persoalan, bahwa kasus prostitusi online hendaknya dilihat sebagai jeratan kekerasan seksual dimana banyak perempuan ditipu, diperjualbelikan,” tambahnya.

“Tidak sesederhana pandangan masyarakat, bahwa prostitusi adalah kehendak bebas perempuan yang menjadi “pekerja seks” sehingga mereka rentan dipidana atau dikriminalisasi,” pungkasnya.[ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini