Longsor di Cisolok Sukabumi./Net

telusur.co.id – Sebanyak 30 unit rumah yang dihuni 32 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 101 jiwa, tertimbun longsor di Kampung Adat Dusun Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi di penghujung tahun 2018 kemarin.

Hingga Selasa (1/1/19) kemarin, sudah 16 orang meninggal dunia dari 35 warga yang terindikasi tertimbun di lokasi bencana longsor. Sedangkan, 63 jiwa berhasil selamat dan tiga orang terluka.

“Dari ratusan jiwa ini, 63 jiwa di antaranya selamat. Sedangkan tiga orang luka dan 15 ditemukan meninggal dunia. Sisanya tinggal 20 jiwa lagi belum ditemukan,” Kasi Ops Basarnas Jakarta, Made Oka, Selasa (1/1).

BACA JUGA :  Basarnas Temukan Korban Longsor di Bandung Barat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi sendiri menyatakan, lokasi bencana longsor yang menimbun puluhan rumah penduduk tersebut memang merupakan daerah yang rawan bencana alam. Seperti banjir dan longsor.

“Sejak tahun 2010, hampir setiap tahun longsor sering terjadi di daerah ini. Namun, bencana terbesar memang tahun ini,” terang Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman.

Bukan hanya itu, lokasi bencana tanah longsor di daerah tersebut, merupakan salah satu prioritas BPBD Kabupaten Sukabumi dalam melakukan investigasi bencana.

“Kami sudah melakukan pengamatan sementara, bahwa daerah ini memang sangat rawan dan rentan terjadi pergerakan tanah dan tak layak untuk dihuni,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Longsor di Sukabumi, 41 Orang Masih Hilang

Eka mengungkapkan, penduduk yang menjadi korban bencana tersebut, memiliki adat yang berbeda dengan warga di kota.

“Jadi, mereka ini suka menempati tempat-tempat yang lokasinya berdekatan dengan area pertanian dan tidak memikirkan dengan kondisi bangunan yang ada. Akibatnya, saat hujan deras, maka bukit itu langsung tumpah dan menggerus tanah dan menimbun rumah penduduk,” jelasnya.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini