Lucky Lontoh, Initiative of the International Institute for Sustainable Development (IISD) Indonesia. Foto: telusur.co.id/Tio Pirnando

telusur.co.id- Pendapatan perpajakan produksi dan konsumsi serta penghematan dari pengurangan subsidi bahan bakar fosil, harus diinvestasikan secara produktif untuk mendukung pembangunan sosial dan diversifikasi ekonomi. Investasi pendapatan pemerintah Indonesia dari bahan bakar fosil juga harus memperhatikan kepentingan kelompok rentan dan bisa mengurangi biaya hidup mereka.

Demikian disampaikan oleh Initiative of the International Institute for Sustainable Development (IISD) Indonesia, Lucky Lontoh, dalam sebuah diskusi bertajuk “Selepas Bahan Bakar Fosil, Transisi Fiskal Indonesia” di kawasan Menteng, Jakarta, Kos (31/1/19).

Lucky menjelaskan, area-area yang bisa di investasi itu misalnya seperti jaring pengaman sosial, layanan kesehatan, pendidikan dan layanan publik lainnya, serta infrastruktur.

BACA JUGA :  IISD Sarankan Indonesia Hapus Subsidi Bahan Bakar Fosil dan Listrik.

” Investasi ini juga harus menciptakan lapangan pekerjaan baru yang berkelanjutan yang mendukung upaya transisi, termasuk di pedesaan dan daerah yang saat ini bergantung pada bahan bakar fosil,” ujarnya.

Dijelaskannya, investasi untuk energi baru terbarukan (ETB) yang disokong efisiensi energi, diyakini dapat mendorong diversifikasi ekonomi Indonesia dan transisi fiskal akan makin tidak bergantung pada bahan bakar fosil.

Jika masih ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, kata Lucky, maka akan membuat cadangan minyak, gas, dan batubara Indonesia menipis lebih cepat.

Lebih lanjut, Lucky juga berharap, laporan hasil penelitian IISD ini bisa memberi masukan kepada pemerintah dalam rangka membuat perencanaan pembangunan dan perencanaan peraturan pemanfaatan energi terbarukan. Karena, dalam laporan ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dimungkinkan tanpa melalui ekspansi dari penggunaan bahan bakar fosil.

BACA JUGA :  IISD Sarankan Indonesia Hapus Subsidi Bahan Bakar Fosil dan Listrik.

“Saya pikir urgensi yang ditangkap dari laporan ini itu bisa dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan,” tandasnya.[asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini