Dr.H. Joni/telusur.co.id

Kecenderungan terjadinya bencana dalam 5 tahun terakhir meningkat pesat. Tentu tidak ada hubungannya dengan mekanisme pemerintahan yang dijalankan oleh sebuah rezim. Itu pula yang ingin dihubungkan oleh sementara kalangan, yang tentunya tidak nyambung. Terjadinya kecenderungan demikian bisa dijelaskan sekurangnya berdasarkan fenomena alam dan perlakuan kita, manusia yang menghuni alam ini dalam interaksinya dengan alam, atau lingkungan hidup. 

Oleh karena itu segera harus diingatkan harus berbaik baik, dan memperlakukan alam sesuai dengan daya dukungnya, di tengah hiruk pikuk perhatian manusia, khususnya manusia Indonesi dalam peristiwa dan hajat politik khususnya Pilpres dan Pileg beberapa bulan ke depan. 

Perkara Lahan Basah 
Satu momentum peting dari kepedulian ini kiranya diingatkan akan sebuah hari, yang disebut sebagai  hari lahan basah sedunia. Apa itu?. Dalam kisaran waktu, setiap tanggal 2 Februari diperingati sebagai hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day).

Peringatan ini sebagai tindak lanjut telah disepakati dan ditandatanganinya suatu Konvensi Internasional (Perjanjian Internasional) tentang lahan basah, tepatnya tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran. Konvensi tersebut kemudian dikenal sebagai: Konvensi Ramsar. 

Konvensi pada awalnya fokus pada masalah burung air termasuk burung air migran. Pada tahap berikutnya berkembang kepada konservasi ekosistem lahan basah termasuk keanekaragaman hayati di dalamnya. Pada tahap berikutnya menyangkut aspek lebih luas yaitu lingkungan hidup manusia dalam arti interaksinya dengn alam. Hal ini mengingat sudah mulai ada tanda ketidakseimbangan tindakaan eksploitasi alam oleh manusia dengan tanpa kendali. Hal ini mengakibatkan rona lingkungan menjadi tidak seimbang dengan daya dukungnya. 

Dari hal di atas, dalam arti awam eko sistem berupa lahan basah menjadi penyangga kehidupan menjadi terdegradasi kekuatannya, atau tambah melemah.  Untuk itu sangat penting diingatkan untuk menjaga dan memberi proteksi maksimal, tentang betapa pentingnya menjaga ekosistem lahan basah itu bagi keseimbangan dan keserasian hidup manusia dengan alam tempatnya berdiam. 

Dalam pemahaman fisik, lahan basah menurut Konvensi Ramsar merupakan definisi yang luas. Ranahnya meliputi daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan: alami atau buatan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut. Kawasan ini harus benar benar dijaga kelestarian dan keseimbangannya, bagi kehidupan manusia. Tidak lain dalam fungsinya sebagai penyangga, mampu mencegah berbagai akibat dari ketidakseimbangan, yang dalam bahasa awam disebut dengan terjadinya bencana. Tidak saja di Kawasan lahan baah, tetapi juga pada Kawasan yang secara jarak sangat jauh dari lahan basah itu sendiri. 

BACA JUGA :  Sah, Ma'ruf Amin jadi Pendamping Jokowi di Pilpres 2019

Indonesia masuk menjadi anggota Konvensi Ramsar pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Keppres 48 tahun  1991 yang merupakan Ratifikasi Konvensi Ramsar di Indonesia.  Pada tahun 1996, sebagai salah satu hasil pertemuan para anggota Konvensi Ramsar, ditetapkan bahwa tanggal 2 Februari adalah Hari Lahan Basah Sedunia. Pada tahun 1997, Hari Lahan Basah Sedunia untuk pertama kalinya diperingati di seluruh dunia oleh negara-negara anggota Konvensi Ramsar. 

Jangan Abai 

Bahwa frekuensi bencana di hampir seluruh belahan dunia terus meningkat. Berdaakan pantauan, dalam 35 tahun terakhir frekuensinya meningkat lebih dari dua kali lipat. Hal Itu terejadi, penyebab utamanya adalah rusaknya lingkungan akibat ulah dan kelalaian manusia. Diperparah lagi dengan fenomena perubahan iklim yang terjadi, sebagian juga disebabkan oleh perlakuan manusia terhadap alam. 

Perlakuan yang tidak seimbang itu menyebabkan menurunnya daya dukung lingkungan, sehingga lingkungan dan bahkan kehidupan masyarakat di dalamnya menjadi semakin terancam dan rentan terhadap berbagai bencana. Estimasi  sederhana menyebut bahwa 90% dari semua bencana alam terkait dengan perlakuan yang tidak seimbang teradap air.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksikan bahwa peristiwa ekstrim ke depan akan jauh lebih parah lagi. Kerusakan lingkungan serta bencana yang terus menerpa, menjadikan ekosistem lingkungan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat (terutama masyarakat miskin) semakin rentan. Ramsar menyatakan bahwa 90% kematian akibat bencana terdapat di negara-negara miskin dan berpendapatan yang rendah. 

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang terletak di antara dua lempeng benua. Merupakan negara kepulauan ini memiliki risiko bencana gempa, letusan gunung berapi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Perhitungannya bahkan  10 kali lebih besar dibandingkan dengan negara lainya. Kondisi ini diperparah dengan kondisi Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki tingkat kerentanan terhadap dampak perubahan iklim yang cukup tinggi. 

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) misalnya, menunjukkan bahwa kecenderungan  bencana Indonesia dari 2002 hingga 2018 dan berikutnya cenderung meningkat. Pada tahun 2002, tercatat 143 bencana terjadi di Indonesia, meningkat hingga 1.681 bencana pada 2015. Data khusus tahun 2018, dihitung Januari hingga 24 September 2018 saja tercatat ada 1.999 kejadian bencana di Indonesia, dan terus meningkat hingga akhir 2018. 

BACA JUGA :  Mau Selfi Bareng PRABOWO Warga Berdesak-desakan

Dari data itu, sebesar sembilan puluh lima persen diantaranya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, puting beliung, cuaca ekstrim, dan kekeringan.  Semuanya akibat tingginya kerusakan lingkungan, meningkatnya dampak perubahan iklim dan tidak terintegrasinya program pengurangan risiko bencana ke dalam ranah kerja sektoral (dan sebaliknya). Artinya itu semua adalah akibat dari perilaku manusia yang tidak secara terencana dan terprogram ketika memperlakukan kondisi lingkungan. 

Visi dan Misi Capres 
Dimaklumi, presiden adalah pemimpin politis. Para Caleg adalah wakil politik. Visi, misi yang dijabarkan dalam program lebih besar, kalau tidak bisa dinyatakan kesemuanya berorientasi pada aspek politis dan hal hal yang secara langsung dirasakan manfaat dan bersentuhan dengan masyarakat secara instan. Ibarat dagangan, itu adalah yang paling laku. Paling bisa diamati secara praktis pragmatis bisa diukur. 

Sementara hal hal non politis, seperti masalah lingkunga, dan lebih khusus lagi masalahlahan basah begitu asing dan terasing. Oleh karena itu sekuat yang bisa disuarakan, dan senyaring yang bisa disampaikan, momentum yang berhubungan dengan World Wetlands Day menjadi semacam barang jualan yang dinilai simpatik.

Penekanannya, kendatipun abstrak adalah pada kepedulian terhadap lahan basah, yang berarti mencegah atau meminimalisasi terjadinya bencana. Sayang sekaloi dari program yang terjadwal dalam debat capres misalnya tidak ada program yang secara terstruktur disampaikan mengenai hal ini. 

Terlepas dari aspek politis dan sentimen eksklusif terhdap calon, ada baiknya para pemilih, kita semua menaruh simpati terhadap calon presiden yang memikirkan permasalahan lingkungan. Ini bukan kampanye, karena begitu bencana terjadi yang menderita adalah kita semua, rakyat Indonesia.

Oleh karena itu dengan tidak bermaksud dan berpretensi kampanye, mari kita pilih presiden yang menaruh kepedulian kepada fenomena lingkungan, khususnya pada masalah lahan basah. Asing poada awalnya, tetapi ketika mengingtat begitu penting dan mendasarnya, akan menjadi sebuah komoditas yang layak  disebut mulia. Mulia untuk nilai kemuliaan secara umum, dan membawa manfaat konkret bagi  masyarakat.

Penulis : Dr.H. Joni.SH.MH.

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini