Dr.H. Joni/telusur.co.id

Oleh: H. Joni.

HIRUK pikuk proses Pilpres dan Pileg dengan segala dimensinya ternyata tidak bisa dinikati oleh seluruh penduduk di seluruh kawasan tanah air. Pasalnya masih begitu banyak, kawasan di Indonesia khususnya pedesaan yang belum terjangkau internet. Bahkan di tempat terpencil masih ada yang belum terjangkau siaran televisi.

Pada perspektif proses Pilpres, kondisi ini berpotensi menimbulkan kampanye hitam. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, kerawanan itu ada di seluruh wilayah tanah air, kesemuanya memerlukan daya kritis dan cerdas khususnya calon pemilih pada hajat nasional Pilpres dan Pileg bulan April 2019 ini.

Pasalnya sosialisasi terhadap tahapan proses apalagi pada masa kampanye seperti saat ini, informasinya sangat minim. Tanpa bermaksud untuk berpikir negatif, pihak yang tentunya mempunyai sarana, prasarana dan akses yang memadai, yang bisa menjangkau kawasan semacam ini.

Siapa lagi, kalua bukan petahana, yang mampu menjangkau melalui jalur birokrasi yang bisa “berbicara” dengan mereka, yang umumnya berada di luar Pulau Jawa. Mereka ini, tentu termasuk yang tak terjangkau oleh internet.

Pemikiran ini bukan pesimis, dan harus tetap pada koridor optimisme dalam menghadapi hajat nasional bulan April mendatang.

Akses internet harus lebih diwaspadai pada proses kampanye ini adalah pola kampanye hitam (black campaign) yang rentan terjadi di kawasan blank internet, atau wilayah yang tidak terjangkau internet.

Sebab beberapa wilayah rawan, yakni wilayah yang sulit memperoleh sinyal jaringan komunikasi bisa disebut menerima informasi hanya sepihak. Tidak bisa dikonfirmasi keberadaan
apalagi kebenarannya, dibandingkan kalau ada internet.

Internet bisa mengakses informasi dan kontra informasi atas berita hoaks yang dinilai tidak sewajarnya.

Bahwa perkembangan ilmu dan teknologi dalam bidang komunikasi mengalami peningkatan setiap waktunya. Secara umum perkembangan tersebut didasari oleh pola pikir manusia yang semakin maju dalam mendalami ilmu pengetahuan.

Pada dimensi social kebutuhan akan suatu proses yang efektif untuk membantu pola komunikasi disela aktivitas yang padat mengakibatkan adanya inovasi dalam perkembangan komunikasi melalu jaringan internet.

Pola demikian sudah mendunia. Jadi manakala ada wilayah yang tidak terjangkau internet, bisa disebut ketertinggalannya sedemikian jauh. Pada era modern bisa disebut sebagai primitif. Pasalnya, internet merupakan suatu hasil penemuan dari perkembangan teknologi dan ilmu komunikasi yang dipadukan dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.

BACA JUGA :  Soal 25 Juta Data Ganda, DPR Minta KPU dan Kemendagri Antisipasi Kecurangan

Pada dasarnya internet merupakan suatu jaringan yang memiliki koneksi melalui sarana teknologi komputer untuk dapat menyebarkan suatu informasi ataupun sebagai media berkomunikasi. Akan tetapi saat ini perkembangan internet mengalami perluasan dari segi jaringan atau koneksinya serta dari media yang digunakan. Internet saat ini tak hanya dapat diakses melalui komputer saja, akan tetapi sudah dapat diakses melalui beberapa media teknologi lainnya seperti android ataupun smartphone.

Melalui internet banyak data, informasi ataupun sarana komunikasi dirasa semakin efektif dan mampu memenuhi kebutuhan publik dalam berinteraksi. Termasuk sebagai sarana kampanye sangat efektif dan efisien untuk berbagai hajat yang terkait dengan pelaksanaan demokrasi sepeti Pilpres dan Pileg.

Jangkauan internet saat ini semakin luas hingga menjangkau bebagai sudut dunia yang tadinya sulit untuk berinteraksi dengan masyarakat dunia lainnya. Ruang sosial masyarakat dunia dalam berinteraksi juga mengalami perluasan melalui internet. Banyak upaya peningkatan dalam akses informasi pemerintah untuk rakyatnya juga terbantu melalui perkembangan internet.

Dalam bingkai positif, internet dianggap sebagai kebutuhan yang menjadi prioritas masyarakat dalam mencari informasi dan berkomunikasi. Keberadaannya semakin terlihat dengan adanya beberapa media sosial online yang akhir-akhir ini banyak digunakan masyarakat, bahkan menjadi kebutuhan primer.

Melalui jaringan internet masyarakat menggunakan media sosial sebagai sarana bekomunikasi dan bertukar informasi dengan banyak individu lainnya.

Kecanggihan dan lengkapnya layanan media sosial yang ditawarkan juga memberikan nilai lebih bagi media sosial sebagai pilihan masyarakat dalam menerima atau menyebarkan suatu informasi. Media sosial juga merupakan sebuah aplikasi yang saat ini banyak masyarakat memiliki untuk dijadikan sebuah eksistensi dirinya dalam dunia maya.

Melalui sarana internet, berbagai hal yang dulunya mustahil dilakukan kini dapat dilakukan. Dengan sederhana internet bisa disebut sebagai pendekat jarak dan penyingkat waktu. Artinya secara positif keberadannya memiliki manfaat bagi masyarakat.

Akan tetapi dampak dari perkembangan internet juga perlu diperhatikan agar masyarakat dapat menerapkan pola komunikasi yang baik dalam lingkungan sosialnya. Masyarakat bisa memanfaatkan internet secara sehat.

BACA JUGA :  PB HMI Ingatkan Publik Hindari Demokrasi Sentimen

Diantara dampak negatif itu adalah pemanfaatannya sebagai sarana kampanye hitam sebagaimana dimaksud. Oleh karena itu, Bawaslu Kabupaten Kotawaringin Timur mengantisipasi kemungkinan adanya kampanye hitam dalam pemilu tahun ini layak diapresiasi. Tak berkelebihan jika ini juga menjadi perhatian secara nasional.

Kuncinya: Kejujuran dan Akal Sehat Secara teknis, sulitnya dijangkau wilayah itu disebabkan kondisi geografisnya perbukitan, hutan, dan perkebunan. Selain itu, akses jalan yang masih sulit menyebabkan sulitnya pula informasi yang bisa disalurkan melalui internet menjdai tidak bisa jalan.

Sebagai akibat lain dari blank spot ini sangat mempengaruhi tingkat koordinasi antarpengawas pemilu di kelurahan atau desa, maupun pengawas pemilu kecamatan yang ada di wilayah tanpa terjangkau internet.

Secara teknis, untuk menghindari kecurangan atau kampanye hitam, Bawaslu memang sudah berupaya meningkatkan koordinasi dengan memperkuat jaringan hingga tingkat desa. Dengan demikian, setiap ada kecurigaan atau hal-hal yang terindikasi kampanye hitam, dapat segera dikoordinasikan.

Namun tetap saja masih banyak yang tidak terjangkau, dan blank spot masih tetap tidak terpecahkan.

Idealismenya, dengan sarana komunikasi yang ada, pesan yang sama sekuat tenaga harus disampaikan kepada masyarakat. Bagi masyarakat penerima informasi kuncinya adalah dengan mengandalkan commonsense atau akal sehat. Apakah informasi yang diterima melalui berbagai sarana informasi yang tidak bisa diklarifikasi sesuai atau tidak, benar atau tidak adalah meggunakan akal sehat. Self filter atau filternya ada pada diri sendiri.

Satu informasi apalagi berkenan dengan Pilpres dan Pileg mengharuskan disaringnya sedemikian rupa sehingga secara obyektif setiap informasi itu adalah benar adanya. Benar dalam arti tidak merugikan satu pihak dan tetap berada pada koridor demokrasi yang sehat.

Melalui cara self filter ini justru ketahanan masyarakat akan terwujud lebih kuat. Pada kondisi ini, kedewasaan dan kematangan berdemokrasi justru akan lebih mantap dan menemukan eksistensinya. Dibandingkan dengan ketergantungan terhadap media informasi berbasis internet yang begitu massif dan gencar menyampaikan berbagai informasi yang sebagian bersifat hoaks. [***]

*Penulis adalah pengamat sosial dan hukum

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini