Oleh: Rusdianto Samawa

Aktivis Peduli Lingkungan

EMPANG TARANO – Banjir bandang atau Air Bah adalah banjir besar yang datang secara tiba-tiba dengan meluap, menggenangi, dan mengalir deras menghanyutkan benda-benda besar, seperti kayu, rumah dan sebagainya. (Wikipedia, 2018)

Banjir Desa Empang, Kecamatan Empang dan Desa Bonto, Kecamatan Tarano ini terjadi secara tiba-tiba di daerah permukaan rendah akibat hujan yang turun terus-menerus pada tanggal 6 Desember 2018. Banjir Empang dan Tarano disebabkan oleh banyak pendangkalan sungai dan kegundulan hutan sehingga menyebabkan banjir.

Kategori banjir bandang menjadi suatu kondisi luapan air yang berlebih berakibat terendamnya wilayah Empang dan Tarano dalam volume besar. Penyebab lain, aliran air yang tidak dapat lagi tertampung oleh sungai, laut, danau, dan saluran lainnya. Karena kebiasaan selama ini sejak tahun 1980-an biasanya air banjir berasal dari sungai atau hujan lebat yang terus menerus.

Saat bencana banjir terjadi, masyarakat banyak kehilangan harta bendanya. Bahkan sampai menimbulkan rumah rubuh, menyebarnya bibit penyakit, kehilangan harta benda, ladang, tanaman, lahan pertanian yang rusak, banyak korban jiwa akibat, fasilitas umum, sarana prasarana yang rusak dan lainnya.

Penyebab banjir Empang dan Tarano agar bisa mengambil langkah tepat untuk mencegahnya.

  1. Penebangan hutan liar yang menyebabkan hutan gundul. Penyebab Gundul sala satunya penebangan oleh petani untuk menanam jagung, tanpa ada penanaman pohon kembali.
  2. Sampah yang sembarangan dibuang di sungai membuat alirannya mampet. Hal ini banyak kelakuan masyarakatnyang menimbun sampah dibawah jembatan Berang Kesaming Empang dan Jembatan sungai Bonto Tarano yang merupakan penghubung antar DAS yang berakhir ke laut Labuhan Bontong.
  3. Pemukiman di bantaran Sungai. Bantaran kali sepanjang aliran sungai Berang Kesaming sudah banyak rumah-rumah, terutama sekitar Karang Lombok Desa Bunga Eja, Karang Keban Ubat Desa Empang dan Aliran Sungai Desa Stober. Apalagi sejak tahun 1980-an DAS kecil seputaran bekas Rumah Sakit Empang dan tersambungnya ke Sungai bagian utara, Barat dan Selatan Desa Jotang.
BACA JUGA :  Mari Mencegah Banjir, Berhentilah "Merantas Menebang" Hutan

Lagi pula, dialiran sungai Berang Batir yang terhubung langsung dengan air yang turun dari Olat Maja, Jotang dan Empang sendiri sudah mengalami pendangkalan luar biasa. Belum lagi belakang bekas Rumah sakit Empang tidak terurus sama sekali.

Pemukiman di bantaran sungai membuat kali rentan terjadi pendangkalan sungai karena kebiasaan buang sampah para warga yang langsung ke sungai dan keadaan tanah yang ada di sekitar bangunan bisa saja ambles lalu menutup sisi-sisi sungai. Sehingga kali atau sungai jadi sempit dan rawan bencana banjir. Itulah yang terjadi di Empang dan Tarano.

  1. Daerah yang datarannya rendah. Tentu saja wilayah Empang dan Tarano termasuk dataran rendah yang rawan banjir, karena luapan air akan mengalir dari tempat yang datarannya tinggi ke tempat yang datarannya rendah sehingga banjir sering terjadi. Contoh: Wilayah Empang, Tarano dan Bunga Eja adalah tempat berkumpulnya air dari segala penjuru.
  2. Curah hujan yang tinggi. Pada bulan Desember hingga April daerah Empang dan Tarano setiap tahun mengalami intensitasi curah hujannya tinggi, jika terjadi berlarut-larut atau hujan lebat dalam kurun waktu lama, sangat berpotensi terjadi nya banjir. Apalagi Empang dan Tarano dataran rendah semakin lebih mudah terjadinya banjr.
  3. Drainase yang diubah tanpa mengindahkan Amdal. Hal ini terjadi di Kota Kecamatan Empang. Jalur drainase yang diubah tanpa mengindahkan amdal yang terutama di lingkungan perkotaan. Bahkan, pembanguan Kota Empang kurang memahami pentingnya Amdal.

Mungkin saja pemerintah Kabupaten Sumbawa kedepan pertegas melalui Peraturan Daerah (Perda) agar bisa diatur dalam pembangunan kota. Artinya, Empang dan Tarano masih relatif mudah menata tata ruangnya karena belum begitu padatnya pembangunan rumah warga.

  1. Salah sistem kelola tata ruang. Kesalahan tata kelola ini, banyak diabaikan oleh pemerintah daerah terutama dibeberapa Kecamatan di Kabupaten Sumbawa, terutama Kecamatan Empang.
BACA JUGA :  Managing State : Dikelola Proxy China, Operasi Cangkok Identitas

Dengan kesalahan sistem kelola tata ruang yang mengakibatkan air sulit untuk menyerap dan alirannya lambat. Sementara air yang datang ke daerah tersebut jumlahnya lebih banyak dari yang biasa dialirkan sehingga mudah cepat terjadinya banjir. (baca: ruang publik untuk kehidupan).

  1. Tanah tidak mampu menyerap air. Ketidakmampuan tanah dalam menyerap air tersebut dikarenakan sudah jarang ditemukan lahan hijau atau lahan kosong. Sehingga air langsung masuk ke salurannya, sungai, danau, selokan dan perkampungan. Air dalam jumlah yang banyak dan deras yang tidak bisa tertampung lagi oleh saluran-saluran tersebut pun menggenang dan mengakibatkan banjir.

Dalam jangka panjang, pemulihan kembali daerah bencana yang butuh waktu lama dan biaya untuk membangun sarana prasarana yang rusak tidak murah. Apalagi ditambah terjadi kenaikan harga karena bahan makanan yang langka.

Maka, solusi yang dapat kita ajukan kepada pemerintah adalah:

  1. Menata daerah aliran sungai sesuai fungsinya dengan memberi pengertian, kesadaran kepada masyarakat agar jangan membuang sampah sembarangan ke aliran sungai.
  2. Jangan bangun rumah di bantaran sungai sehingga sungai tidak.mengalami penyempitan.
  3. Pemerintah segera lakukan pengerukan dan membuat aliran sungai Berang: Batir, Kesaming, Bonto, Raberai, Rabore, Orong Labu, Bunga Eja, Banda, Bantu, Maja, Jotang, dan Stober.
  4. Pemerintah juga memasang alat pemberitahuan atau sistem pemantau dan peringatan akan terjadi bencana perlu dibangun di daerah rawan banjir.
  5. Moratorium penanaman Jagung dan lakukan penghijauan hutan kembali (reboisasi).[]
Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini