Prof.Dr. Syaiful Bakhri, SH.MH (Ahli Hukum) | Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)



Media sosial sejatinya tetap menjadi model pembelajaran masyarakat sebagai pengguna aktif telepon cerdas (smart phone), walaupun disadari tingkat pendidikan yang sangat bervariasi, serta kemajemukan masyarakat Indonesia dengan ciri khas watak kedaerahan teramat sulit menghilangkan emosi masyarakat terutama tentang isue politik pada tahun tahun politik pemilihan umum Presiden maupun pemilihan legislatif .

Masyarakat terbiasa dengan pandangan bebas dalam menyampaikan gelora bathinnya dalam bentuk kata kata dan kalimat yang cenderung negatif, semula membandingkan kemudian memaksakan kehendak yang berakibat kehilangan budaya kesantunan dan bahkan berujung pada perbuatan melawan hukum dengan ujaran kebencian.

Berbagai undang undang telah melarang sikap tindakan penghinaan didepan umum, persangkaan bohong dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya, karena itu berapa banyak konten konten media sosial yg dilakukan secara individu yang bermaksud menyebarkan kebencian melalui berita bohong dan menimbulkan korban secara sistemik.

Apakah mesti perbuatan atau permufakatan jahat melalui media sosial itu harus berujung ke pengadilan pidana ?

Itulah masalah yang belum bisa dipecahkan, karena hukum pidana itu adalah bersifat penyembuhan penyakit masyarakat, sehingga fungsinya tidak semata mata penegakkan hukum agar pelaku kejahatan selalu dihukum karena model pembalasan.

Tetapi bila dibiarkan maka ketertiban masyarakat juga terganggu dan emosi masyarakat dibiarkan untuk terbakar terus menerus.

Maka keadaan tak terkendali ini menimbulkan sikap dan benih benih lahirnya tindakan radikal dan berakibat Terorisme menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dan negara.

Karenanya pendidikan serta agama amat berperan dalam menurunkan tensi emosi masyarakat dengan model kebajikan, pesan moral dalam kitab kitab suci, diyakini dapat meredam panasnya hiruk pikuk tahun politik.

Lembaga pendidikan dengan kemuliaan para guru dan dosen dapat berperan sebagai garda utama, mencerdaskan kehidupan penggunaan media sosial yang edukatif, tidak provokatif.

Agar terjaga harmonisasi yang selaras ditengah gejolak emosi masyarakat yang tak terkendali, maka pendidikan  melalui cara cara dan metodeloginya, dapat meredam keresahan yang terjadi, sehingga tokoh politik elit, hingga masyarakat dapat tersadarkan bahwa tujuan terjauh bangsa Indonesia adalah capaian masyarakat adil dan makmur sejahtera lahir bathin, melalui gerakan Indonesia Berkemajuan[***].

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini