Rizal dalam diskusi bertajuk "Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negeri? di Kantor Seknas Prabowo-Sandi, Jalan Hos Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/1). FOTO:Istimewa

telusur.co.id – Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, tema besar gerakan mahasiswa pada waktu malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 adalah meminta keadilan, anti dominasi asing dan anti korupsi.

Hari ini, kata dia, tema itu masih berlaku. Dominasi asing begitu kentara, ketidakadilan masih terasa dan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) makin banyak, bukannya makin berkurang.

“Kenapa? Karena demokrasi kita hari ini adalah demokrasi kriminal, karena kita sok ikut sistem politik di Amerika,” kata Rizal dalam diskusi bertajuk “Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negeri? di Kantor Seknas Prabowo-Sandi, Jalan Hos Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/1).

BACA JUGA :  Hidupkan Lagi Dwi Fungsi TNI, Rizal Ramli : Jangan Sok Jago

Di Amerika, lanjut dia, partai politik tidak dibiayai negara, tetapi mereka bisa kumpulkan uang dari rakyatnya yang kaya atau perusahaan yang kaya.

“Kita sok jago ikut sistem itu. Akibatnya apa, terjadi korupsi paling gede di Indonesia korupsi lewat politik,” terangnya.

Karenanya, kata dia, sistem demokrasi kriminal seperti saat ini harus diganti. Partai politik harus dibiayai negara, sehingga tugas partai hanya mencari kader yang amanah, yang bagus.

“Jadi roh kriminal demokrasi harus kita ganti, jadi roh yang amanah, dan itu bisa dilakukan. Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang mau lakukan ini, sehingga partai politik gak sibuk nyari duit, baru demokrasi bekerja untuk kebaikan rakyat,” kata dia.

BACA JUGA :  Ganjar Diingatkan Fokus Bekerja Untuk Jateng, Ketimbang Ikut Cawe-cawe Pilpres

“Karena hari ini demokrasi hanya bekerja untuk memperkaya elit, ya di DPR (legislatif), eksekutif, ini harus kita hentikan kalau kita ingin demokrasi bekerja untuk rakyat kita,” pungkas dia.[ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini