telusur.co.id – Beredar video wawancara calon wakil presiden, Ma’ruf Amin di situs berbagi video Youtube dengan judul “Pendapat Ma’ruf Amin Mengenai Vonis Ahok”.

Dalam video, Ketua Majelis Ulama Indonesia nonaktif itu mengaku menyesal dan terpaksa jadi saksi memberatkan kasus penodaan agama yang dilakukan bekas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang populer dengan sapaan Ahok.

Di video itu, Kemal Pahlevi pewawancara Ma’ruf menyodorkan pertanyaan terkait kesaksian Ma’ruf di persidangan Ahok.

“Pernah menyesal nggak sih jadi saksi yang memberatkan dan membuat Pak Ahok masuk penjara?”

Ma’ruf pun menjawab menyesal. “Iya tentu saja, cuma karena terpaksa saja kan,” kata Ma’ruf dalam video yang dipublikasikan pada 14 Desember 2018.

“Iya tentu saja, siapa yang ingin memenjarakan orang, kan nggak mau. tapi karena terpaksa, situasi pada waktu itu prosesnya penegakan hukum, ya apa boleh buat dengan rasa terenyuh,” kata dia.

Menanggapi pengakuan Ma’ruf yang merupakan pendamping petahana Joko Widodo, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memberikan pujian.

“Sebagai seorang pemimpin, seorang ulama itu kan selalu menjawab berbagai persoalan yang diajukan. Pernyataan beliau merupakan suatu hal yang menunjukkan bahwa beliau memang seorang ulama. Seorang yang selalu menjawab pertanyaan rakyat dan wartawan,” kata Hasto, di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis (3/1/19).

Ia kemudian menyindir kubu lawan yang sempat marah-marah dengan wartawan karena tidak terima dengan pemberitaan yang minim seputar Reuni Akbar Mujahid 212 beberapa waktu lalu.

“Itu kan hebatnya Kiai Ma’ruf di situ. Sementara yang di sana mencurigai wartawan,” katanya.

Terkait pengakuan Ma’ruf, komentar beragam mengalir deras di media sosial atas sikap politisnya itu.

Bahkan, ada yang menyebut statemen Ma’ruf bisa menyeretnya ke ranah hukum karena dinilai telah memberikan keterangan di bawah tekanan.

Sementara mantan Staf Khusus Menteri ESDM M. Said Didu mengaku tidak heran dengan sikap mantan Rais Aam PBNU itu.

Menurut Said Didu, dirinya sudah kenal lama dengan sosok Ma’ruf sejak tahun 1993, jauh sebelum menjadi cawapres mendampingi petahana Joko Widodo.

“Saya tidak terlalu kaget atas perubahan dari beliau, karena sejak saya kenal beliau saat bersama naik Haji thn 1993, beliau adalah politisi,” kata Said Didu dalam cuitan akun Twitter miliknya, Jakarta, Sabtu (5/1/19). [ipk].

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini