Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal saat berbicara dalam diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk “Sikap Cerdas Generasi Milenial Menangani Hoaks Dengan Konstruktif dan Solutif” di kantor DPP PGK, Jakarta Selatan.Foto:telusur.co.id

telusur.co.id – Pada tahun 2018 Polri menangani 52 kasus hoaks. Dari 52 kasus tersebut, 18 diantaranya telah maju ke persidangan.

Begitu disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal saat berbicara dalam diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk “Sikap Cerdas Generasi Milenial Menangani Hoaks Dengan Konstruktif dan Solutif” di kantor DPP PGK, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/19).

“Kita kedepankan upaya preemtif dan preventif daripada penegakan hukum. Tapi ada 18 kasus yang maju ke persidangan karena mereka kreator (pencipta) hoaks,” ujar Iqbal.

BACA JUGA :  PUSHAMI: Wiranto Bisa Jadi Teroris di Mata Rakyat

Menurut Iqbal, salah satu yang sangat rentan terpapar hoaks adalah generasi milenial. Oleh karenanya, generasi milenial ini harus mendapat edukasi yang betul-betul mengarahkan kepada kebangsaan dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika.

“Bahwa Pancasila ini adalah harga mati, tanpa mencederai hal-hal yang harus dikoreksi,” katanya.

Iqbal mengatakan, ada sejumlah alasan mengapa generasi milenial rentan disusupi hoaks. Salah satunya ialah kebiasaan generasi milenial yang lekat dengan gawai atau gadget.

“Yang saya baca generasi milenial punya semboyan ‘no gadget no life’, jadi kalau nggak ada gadget mereka nggak hidup,” jelasnya.

BACA JUGA :  Pemilu Itu Riang Gembira, Bukan Suka Fitnah dan Hoaks

Iqbal juga mengingatkan, bahwa dampak dari berita hoaks bisa sangat besar. Ia mencontohkan, soal hoaks tujuh kontainer surat suara beberapa waktu.

“Itu bisa membuat onar di Indonesia, keonaran itu bukan harus kita gontok-gontokan dulu, atau pukul-pukulan dulu, bukan harus goyang-goyang pagar DPR, bukan. Tapi onar di dunia maya luar biasa dampaknya,” pungkasnya.[asp

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini