Margarito Kamis/Istimewa

Saya tidak setuju memenjarakan ide gagasan dan wacana, keberhasilan reformasi yang bisa dibanggakan, salah satunya adalah kebebasan berpendapat dan berpikir. Agar kita menjadi bangsa yang cerdas. Itulah sepenggal kalimat Cak Imin, sapaan akrab untuk Pak Muhaimin Iskandar, ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, PKB.  Kalimat ini dikutip Mas Hersubeno Arif dalam sebuah artikel kritisnya atas pemenjaraan Ahmad Dhani, musisi berkelas yang syair lagunya acap terselip pesan relijius itu.

Bangsa yang cerdas, itulah visi nasional bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Visi nasional itu digariskan dalam pembukaan UUD 1945, yang dalam pilpres kali ini, diwajibkan untuk dijadikan kerangka debat capres. Visi itulah yang menuntun bangsa ini mengarungi deru kehidupan yang terus bergelombang ini.

Benar

Cak Imin benar. Tidak ada bangsa yang dapat melangkah maju, menciptakan lingkungan kehidupan warganya yang sesuai dengan derajat kemanusiaan, bergerak kalau tidak melampaui, setidaknya sejajar dengan bangsa-bangsa lain, tanpa kemerdekaan berpikir. Tidak. Kemerdekaan berpikirlah, persis seperti telah ditunjukan oleh sejarah, yang memungkinkan bangsa lain menjadi besar, maju dalam segala bidang, melampaui bangsa lainnya.  

Kemerdekaan berpikirlah yang memungkinkan anak-anak negeri lain, mengubah wajah, bukan hanya bangsanya, melainkan dunia. Kalau orang telah dilarang berpikir, bagaimana mungkin mereka diminta berpikir dalam, analitis dan kreatif? Kalau kebebasan dan menyatakan hasil pikirnya tak lagi mungkin, bagaimana nalarnya meminta mereka mengambil bagian dalam membuat gerak maju bangsanya dalam segala bidang? Jelas omong kosong.

Siapapun boleh menahan, memenjarakan kebebasan berpikir dan karya berpikirnya pada satu waktu, tetapi tidak setiap waktu. Ratu Elizabeth I (1558-1603), dan Raja James I (1603-1625) pernah melakukannya. Mereka tidak mengizinkan William Lee pencipta Stocking Frame, untuk mekanisasi produksi tekstil. Kedua penguasa itu menyodorkan, disini terlihat pertimbangan politik melanggengkan kekuasaan mereka, sebagai alasan dasarnya. Kata mereka, rakyat bakal menganggur, karena berkurangnya kesempatan kerja.

Tetapi Darren Acemoglu James A. Robinson mencatat bukan itu alasan dasarnya. Alasan dasarnya adalah kedua penguasa itu khawaitr dengan kekacauan politik yang akan terjadi karena begitu banyak orang tidak bekerja. Kekacauan itu, jelas keduanya, akan mengganggu kekuasaan kedua ratu dan raja itu. Ternyata hidup terus bergerak, membawa kebutuhan lain yang berbeda, dan menjadi kekuataan pendobrak bertenaga dahsyat terhadap pertanahanan kekuasaan monarki itu.

Inggris akhirnya tak memiliki pertahanan untuk menghambat kebebasan kebebasan, pangkal kreasi dan inovasi. Inggris pun tiba pada waktunya haru mengenal, ambil misalnya mesin uap berkat kemerdekaan berpikir James Watt 1760-an. Karya ini, menurut kedua penulis, Moglu dan Robinson, lebih tepat dinilai sebagai penyempurnaan karya Thomas Newcomen seorang inovator Inggris dan Dionysius Papin seorang inovator Perancis.

BACA JUGA :  UANG DI PEMILIHAN PRESIDEN SUDAH "TRADISI" LAMA

Papin pada tahun 1679 menemukan alat yang disebutnya “team digester” alias penyerap uap, dan pada tahun 1690 membuat sebuah mesin piston uap. Berbekal mesin uap itu pada tahun 1705 Papin membuat kapal uap pertama di dunia.  Dibidang metalurgi dunia mencatat Hendry Cort, penemu teknik membuang unsur merusak kemurniaan besi. Teknik ini menghasilkan besi tuang dengan kualitas baik. Itu sekadar ilustrasi kebenaran kebebasan berpikir.  

Semua temuan di atas menjadi bagian inti dari perubahan peradaban Inggris, bahkan dunia. Bahkan temuan-temuan, yang harus diakui merupakan buah kebebasan berpikir itu, mengawali perubahan besar dalam kancah peradaban dunia. Temuan-temuan itu mengawali revolusi industri. Revolusi ini jelas, berhutang besar pada kecerdasan orang-orang itu, tentu juga pemimpin-pemimpin politik cerdas yang memungkinkannya.   

Janganlah

Kepicikanlah yang membuat penguasa takut pada inovasi sebagai kongkrit kebebasan berpikir. Itu yang terlihat dari cerita Moglu dan Robinson di atas. Kepicikan itu berserakan dalam sejarah kekuasaan asing, kolonial di negeri ini, tentu di masa lalu. Pemerintahan kolonial menyodorkan stratifikasi sosial; penduduk digolongkan ke dalam tiga golongan. Penggolangan ini menentukan kemana setiap golongan mendapat pendidikan, mengasah kecerdasannya.

Belanda yang mememerintah di Hindia Belanda, Indonesia,  takut pada kebebasan berpikir, apalagi menyatakan pendapat secara bebas.  Menyataan pendapat secara bebas, rasional menurut pertimbangan-pertimbangan yang dapat dicek objektifitas, segera dicap sebagai  menyerang eksistensi kekuasaan. Urusan akhirnya adalah penjara. Itulah yang dialami oleh salah satunya Bung Karno, pria hebat, yang selalu memimpikan Indonesia merdeka ini.

Kebebasan berpikir, karena elan yang terkandung di dalamnya, selalu dapat menawarkan jalan lain, berbeda dengan jalan penguasa. Jalan dari orang kritis boleh jadi lebih indah, lebih efisien dan lebih efektif. Rupaya ini dikenali Pak Habibie, professor langka, kala menjadi presiden, sehingga membebaskan sejumlah narapidana politik, juga melonggarkan pers dari kendali izin yang tak masuk akal.

Memungkinkan orang memiliki kebebasan berpikir, termasuk menyatakan hasil pikirnya, memang membutuhkan modal tersendiri. Modal itu adalah kebesaran hati dan visi pemimpin. Pak Habibie membuktikan itu. Di belahan dunia lain ada sejumlah pemimpin membuktikannya. Beberapa di antaranya adalah William Mckinly, Theodore Rosevelt, dan sejumlah penerusnya. Orang-orang besar inilah yang memungkinkan negara mereka berada di panggung tinggi, yang menyulitkan bangsa lain, tidak hanya bisa menyetarakannya, tetapi mengejar ketertinggalannya.

BACA JUGA :  Margarito : Menggeser Anggaran Buat Bayar THR Dan Gaji 13 Masuk Pidana Korupsi

Di Asia ada China. Mao memang gagal dengan lompatan jauh ke depannya. Tetapi satu hal, kata Kishor Mahbubani, Mao berhasil merombak mindset tradisional China. China beruntung memiliki Deng Zhiaoping. Pemimpin inilah yang melambungkan “empat program modernisasi” (modernisasi pertanian, industri, sains dan tekonologi dan militer).

Sesudah Deng, China menemukan orang sekaliber Zhu Rongji, Wen Jibao, Xi Jinping. Semuanya dengan cara cerdasnya masing-masing, memungkinkan China, negeri komunis ini, bergerak maju begitu jauh ke depan, begitu cepat, begitu lincah pada hampir disemua bidang. Zhu Rongji misalnya, sangat terbuka menyepelekan kepentingan pribadinya, dan menempatkan kepentingan rakyat, bangsa di atasnya.

Ia, seperti dikutip Mahbubani, dilaporkan mengatakan kepada para pembantunya untuk menyiapkan 100 peti mati; 99 untuk mereka yang korup dan  yang menghambat reformasi China. Satu lagi sisanya untuk dirinya sendiri. Ia, kata Mahbubani tidak dibunuh, tetapi ia adalah korban pertama dari programnya sendiri. Ia menghilang dari pandangan publik begitu menginggalkan kekuasaannya.

Ketika PM Wen Jibao ditanya John Turton, salah satu dari 55 delegasi Brokings Institution   tentang demokrasi, Wen datang dengan jawaban khas pria berkaliber top. Wen dalam jawabannya tahu bahwa demokrasi barat  mengacu pada rule of law, pemilu bebas, indepensi pengadilan dan keadilan sosial. Perihal pemilu, ia dengan tegas mengemukakan mungkin akan dicoba secara bertahap mulai dari tingkat desa. Bila berhasil mungkin akan ditingkatkan ke provinsi. Bagaimana dengan pusat? Ia mengatakan belum memiliki gambaran. Tetapi ia meminta delegasi Amerika bersabar.  

Mungkinkah China bisa mencapai level, yang saat ini sangat memusingkan banyak negara, termasuk Amerika, karena kebebasan berpendapat, mengeritik pemerintah tak dimungkinkan di sana? Mungkin. Apalagi perlakuan mereka terhadap Muslim Uighur, tidak dapat diterima akal sehat.  Tetapi bagaimana dengan India yang sangat demokratis, tetapi terus bergerak maju, dengan kemajuan yang tidak jauh jaraknya dengan China? Boleh jadi karena orang-orang cerdas diberi kesempatan mengekspresikan kecerdasannya.

Orang-orang cerdas besar dengan kecerdasannya. Orang-orang cerdas memiliki kemampuan menemukan hal yang tak dapat ditemukan dan dilihat orang biasa. Orang-orang cerdas tak bakal melilitkan kekebalan hukum pada orang tertentu. Orang-orang cerdas tahu kekebalan adalah kepingan ketidakadilan. Orang memahkotai kebesarannya dengan kecerdasan. Orang besar selalu takut pada timbangan keadilan.

Cak Imin, terima kasih atas pernyataan masuk akal Mas. Pilihan dan takdir politik Mas nyatanya tak mampu membutakan mata hati Mas untuk memenjarakan suara bening di hati Mas. Dalam takdir itu Mas masih mampu melihat dan menemukan hal-hal hebat untuk kemajuan bangsa besar tercinta ini. Memenjarakan ide, gagasan sama dengan menarik, memanggil dan menempatkan kembali peradaban kuno di atas panggung bangsa ini.

Mari, demi bangsa dan negara tercinta ini, hukum dihargai sebagai hal obyektif untuk peradaban yang menghargai kecerdasan. Hukum tak dipakai memukul, mematikan kecerdasan.  Mari, demi bangsa dan negara tercinta ini, nalar cerdas hukum muncul membawa Dhani segera menghirup udara bebas. Demi peradaban besar yang sedang dirindukan bangsa ini, jangan adili pernyataan-pernyataan kritis Roky Gerung, ilmuan kritis ini.

Penulis : Margarito Kamis (Doktor HTN, Staf Pengajar pada FH. Univ Khairun Ternate)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini