Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens.FOTO:telusur.co.id

telusur.co.id – Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens angkat bicara terkait beredarnya Tabloid Indonesia Barokah (IB) beredar di sejumlah daerah. Tabloid ini dikirim menggunakan jasa pengiriman PT Pos Indonesia ke masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren.

Boni menilai, tabloid tersebut hadir sebagai bentuk kemarahan kolektif masyarakat terhadap maraknya perkembangan hoaks dan fitnah dalam proses politik Indonesia belakangan ini.

“Tabloid IB adalah bentuk kemarahan kolektif masyarakat terhadap perkembangan hoaks dan fitnah dalam proses politik belakangan yang mengancam keamanan masyarakat, perababan demokrasi, kesaktian Pancasila, keutuhan NKRI, dan bahkan martabat kita sebagai manusia,” ujar Boni di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (2/2/19).

Menurut Boni, demokrasi elektoral telah mengambil bentuk yang paling buruk melalui “permainan hoaks” sebagai model baru kampanye politik. Sejalan dengan politik identitas yang berkembang kuat sejak tahun 2016, kampanye hitam melalui penyebaran fitnah dan rekayasa fakta pun berkembang.

BACA JUGA :  Boni Hargens: Reuni 212 Telah Berubah Menjadi Gerakan Oposisi Politik

“Tampak bahwa kebohongan menjadi modus baru dalam membentuk persepsi politik masyarakat. Inilah yang kita sebut ‘politik kebohongan’ dalam diskusi ini,” ungkapnya.

Menurutnya, politik kebohongan jelas merusak keadaban demokrasi dalam segala dimensi. Daya rusak dari politik kebohongan bersumber pada “energy kebencian” yang menggerakkan para pelaku politik untuk memobilsasi dukungan dengan menebarkan fitnah, ilusi, dan propaganda hitam yang tidak berbasis fakta.

“Narasi kebencian menjadi narasi politik yang kuat dan gandrung menghalalkan segala cara. Energi kebencian yang begitu besar menstimulasi pabrikasi kebohongan dan mendaur ulang hoaks sebaai bahan propaganda politik,” tegasnya.

BACA JUGA :  Dubes Arab Saudi Telah Merusak Hubungan Diplomatik Indonesia-Saudi

Lebih lanjut Boni menilai, “politik kebohongan” dimainkan oleh kubu penantang lantaran telah mengalami kebuntuan dalam menyajikan narasi politik yang rasional dan berbasis gagasan dan program. Oposisi menjadi tidak kreatif, bahkan tidak cerdas dalam membangun kritik.

Dia menilai, Jokowi sebagai petahana sulit dilemahkan dengan pendekatan kinerja atau dengan membedah sosok.

“Kinerja pemerintahan yang berjalan dengan normal dan sosok Jokowi yang masih menjadi magnet public adalah hambatan terbesar bagi oposisi untuk melakukan upaya delegitimasi dengan cara yang elegan dan etis. Politik kebohongan adalah jalan hitam yang pintas dalam pemilu,” tandasnya. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini