Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Ahmad Riza Patria saat menjadi pembicara di diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (21/2/19).

telusur.co.id – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Ahmad Riza Patria mengatakan, dari debat kedua Pilpres beberapa waktu lalu, bisa dilihat bagaimana calon pemimpin Indonesia.

“Jadi perbedaan yang mendasar antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi adalah, Pak Jokowi hanya menyampaikan data, kalau Pak Prabowo menyampaikan substansi masalah, solusi yang mendasar,” kata Riza dalam diskusi di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (21/2/19).

Dia mengungkapkan, apa yang disampaikan oleh Prabowo dalam debat bukan sekadar data, tapi konsep dan strategi penyelesaian berbagai masalah penyelamatan bangsa terkait impor, energi, pangan, lingkungan dan infrastruktur. 

“Jadi pemimpin itu, yang dibutuhkan dari seorang presiden itu adalah keberpihakan, kejujuran, gitu loh,” ujarnya. 

Menurutnya, kalau hanya bicara data, itu urusan teknis yang bukan urusan seorang presiden. Tapi itu urusannya level direktur atau kepala bagian. 

BACA JUGA :  Agar Ulama Tetap Dihormati, Ma'ruf Amin Disarankan Mundur dari MUI

“Kalau presiden itu tugasnya berpihak. Contoh soal pangan, Pak Jokowi pernah berjanji 3 tahun, 2 tahun harus swasembada pangan, kalau tidak menterinya akan diganti. Sekarang kan belum ada swasembada pangan,” tutur Politikus Gerindra itu. 

“Bicara impor jagung, ternyata salah datanya, bicara tidak ada kebakaran salah datanya, bicara tidak ada konflik agraria, ternyata salah juga. Banyak konflik, ada yang tertembak, ada yang mati, ada yang dianiaya, ada yang didiskriminasi, banyak datanya,” tambahnya. 

Dia mengungkapkan, dalam debat kedua lalu, Jokowi terkesan hebat menyampaikan data. Tapi ternyata data itu palsu semua. Jadi, kata dia, di situlah bisa dibedakan mana pemimpin yang jujur, dan mana yang pembohong. 

“Mana pemimpin yang memikirkan substansi masalah, mana pemimpin yang hanya bicara teknis. Mana pemimpin yang berpihak pada rakyat, mana pemimpin yang berpihak pada asing,” bebernya.

BACA JUGA :  Kata SBY,┬áSkandal Fitnah Asia Sentinel Libatkan Asing Dan Bangsa Sendiri

Dia juga mengungkapkan hal lain yang membedakan Jokowi dengan Prabowo. Dijepaskannya, kalau Jokowi itu selalu menginventarisir menyiapkan data untuk menyerang. Sedangkan Prabowo tidak pernah berpikir untuk menyerang. Bahkan, lanjut dia, Prabowo mengapresiasi kalau ada prestasi yang dilakuka pemerintah.

“Bahkan beliau mengkritik Pak Jokowi aja diawali dengan minta maaf. Itulah orang Jawa, santun, bijaksana, kita apresiasi kalau ada prestasi, kita koreksi kalau ada yang tidak tepat, kita perbaiki, kita sampaikan solusi terkait masalah, itulah Prabowo Subianto, seorang yang baik, yang negarawan,” imbuhnya. 

“Dia (Prabowo) lebih tua, tapi lebih rendah hati. Dia lebih senior, ilmunya lebih banyak, wawasannya lebih luas, baca bukunya lebih banyak, ga baca komik, tapi Pak Prabowo rendah hati, tampil dengan santun, dengan sederhana, dengan santai, dengan rileks. Itulah pemimpin sesungguhnya, menunjukkan keberpihakkan,” tandasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini