Foto: telusur.co.id

telusur.co.id – Manusia saat ini hidup dalam dua dunia. Pertama dunia nyata, kedua dunia maya. Dalam 24 jam, manusia memakai waktu 6 jam untuk tidur, 9 jam untuk dunia nyata dan 9 jam untuk dunia maya.

Begitu dikatakan Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari dalam diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk ‘Sikap Cerdas Generasi Milenial Menangani Hoaks dengan Konstruktif dan Solutif’ di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/2/19).

Di dunia nyata, kata dia, seseorang hanya punya satu nama. Tapi di dunia maya, manusia bisa memiliki beberapa nama. Dalam dunia maya, ada sifat anonimitas atau tanpa nama.

“Anonimitas ini melahirkan sebuah fenomena, yakni hilangnya tanggung jawab. Kalau di dunia nyata, mau mengucapkan kejelekan orang pasti masih mikir-mikir. Tapi di dunia maya, jangan kan yang jelek, yang lebih jelek saja bisa. Anonimitas inilah yang melahirkan fenomena hoaks,” kata Qodari.

Dia menambahkan, hal itu dibarengi dengan makin besarnya penetrasi dunia maya, maka kemudian orang melihat bahwa yang namanya internet, sosial media, bisa dijadikan alat untuk mempengaruhi opini dan dijadikan senjata politik.

Menurutnya, orang berani melakukan hal yang aneh-aneh di dunia maya karena identitasnya anonim, tidak jelas. Orang bisa menyebarkan kabar bohong alias hoaks dan berbagai macam hal aneh lainnya.

BACA JUGA :  75 Persen Hoaks Ternyata Tak Bisa Diidentifikasi Masyarakat

“Yang namanya hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah dia benar. Ini yang membuat hoaks menjadi berbahaya. Karena dia palsu, tapi seolah asli Karena dianggap asli, orang kemudian menyebarkan dan mempercayai.Kalau kelihatan bohongnya, itu bukan hoaks,” kata dia.

Dijelaskan, yang namanya hoaks, elemennya 90 persen itu benar. Tapi yang diubah cukup salah satu elemen kunci yang mempengaruhi, yakni judul. Dia mencontohkan, ada beberapa berita dari media mainstream yang diubah judulnya.

Di tahun politik ini, kata dia, hoaks mengalami peningkatan. Karenanya, hoaks harus dilawan.

“Bagaimana kita melawan hoaks? Melawan hoaks bukan cuma dengan kumpul-kumpul bikin deklarasi pernyataan kami menolak hoaks. Hoaks adanya di dunia maya, deklarasi di dunia nyata, ya jaka sembung bawa golok,” kata dia.

Dia mengungkapkan, ada dua cara melawan hoaks. Pertama, melakukan aktifitas identifikasi hoaks. Hal itu sudah mulai dilakukan oleh Kemenkominfo, dilakukan cyberpatrol.

“Kalau mau mengetahui hari ini ada hoaks apa saja, cek website stophoax.id. Semua hoaks yang sudah diidentifikasi ditampilkan oleh Kemenkominfo di halaman website ini. Tapi cara ini saja tidak cukup. Ini baru informasi, cenderung pasif,” katanya.

BACA JUGA :  Indonesia Darurat Hoaks, Kominfo: Setiap Hari Ada 10 Hoaks Beredar

Karenanya, ada langkah kedua, setelah hoaks itu diidentifikasi, maka perlu disebarkan ke pihak-pihak yang berkepentingan dan strategis. Misalnya ormas-ormas, media massa, supaya media massa bisa memberikan informasi bahwa itu adalah hoaks.

“Kalau media massa tidak dikasih tahu, yang terjadi, pengalaman selama ini, justru media massa ikut menyebarkan hoaks. Karena sekarang ini sudah terjadi kovergensi antara media masa dengan media sosial. Kalau dulu isu medsos itu mengutip media massa, sekarang media massa mengutip medsos.”

Kenapa media massa harus lebih dipercaya ketimbang medsos. Karena di media massa ada mekanisme, ada hukum dan ada ilmu yang namanya jurnalisme. Dalam jurnalisme ada aturan 5 W 1 H, ada pengecekan fakta.

“Ada wartawannya datang mengecek fakta, mengumpulkan informasi, berita ditulis dan tidak langsung dipublikasikan, tapi disetor dulu ke redaktur atau editor. Di situ ada mekanisme kontrol. Sementara di media sosial tidak ada itu,” kata dia. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini