Presiden RI Joko Widodo / Net

telusur.co.id – Mendekati pemilu 2019, setiap kandidat presiden berlomba-lomba meyakinkan masyarakat agar elektabilitasnya meroket, termasuk Presiden Jokowi.

Tetapi, elektabilitas Jokowi justru stagnan, bahkan cenderung mengkerut. Alasannya, karena dibayang-bayangi dengan tiga krisis. “Sesudah berkuasa hampir 5 tahun, petahana Jokowi sedang diterpa tiga krisis,” ungkap Guru besar Universitas Indonesia, Tamrin Tomagola, Senin.

Yang pertama, krisis otensitas, ada keraguan atas kesejatian dirinya, merakyatkah dia. Kedua, krisis kebijakan, sebagian publik mulai pertanyakan kesuksesan kebijakan nya. Lalu yang ketiga, krisis representasi, kelompok marginal tak terwakili.

Ketiga krisis itu diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian pemilih nya di 2014 beralih jadi Golput. Tim Kampanye yang tidak solid. Berikutnya, karena ada parpol pendukung yang kelewat jumawa. Ada ormas pendukung yang juga kelewat jumawa. “Jenderal Orba jadi beban bagi Jokowi,” sebutnya.

BACA JUGA :  Ada Timses Nantang Debat Cawapres, Yang Fair Itu Cawapres Vs Cawapres

Dengan temuan tersebut, Tamrin menerangkan, jika elektabilitas Jokowi sulit untuk merangkak naik, apalagi waktu tersisa hanya 2 bulanan.

Bahkan, ungkap Tamrin lagi, menurut pengamat politik senior yang tajam intuisi lapangannya ini, yang dikutip ini, karena tiga krisis utama plus 5 Faktor ancaman ini, elektabilitas Jokowi tetap stagnan dan terus menurun. “Sulit ‘rebound’ ke posisi awal dalam sisa waktu sekitar 2 bulanan jelang 17 April 2019,” terangnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini