Wakil Ketua DPR Fadli Zon bersama Anak bungsu Abu Bakar Ba'asyir, Abdurrochim (kanan) dan Kuasa Hukum Abu Bakar Ba'asyir Mahendradatta (kiri). Foto:Bambang Tri P / telusur.co.id

telusur.co.id – Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengakui ada pihak-pihak yang sengaja menggoreng puisi yang berjudul “Doa yang Ditukar” untuk menyebarkan fitnah dan memanipulasi informasi.

Tudingan itu, ingin mengadu domba dan melancarkan fitnah, seakan-akan telah menyerang sosok K.H. Maimoen Zubair melalui puisi tersebut.

“Tuduhan tersebut sangat tidak masuk akal, mengingat saya sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair dan keluarganya,” tegas Fadli, mengklarifikasi.

Untuk menghindari agar fitnah tersebut tak dianggap sebagai kenyataan, Fadli merasa perlu untuk menyampaikan klarifikasi tertulis.

Fadli menegaskan sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair, baik sebagai ulama, maupun sebagai pribadi yang santun dan ramah. “Beberapa kali saya bertemu dengan beliau. Beberapa di antaranya kebetulan bahkan bertemu di tanah suci Mekah, di pesantren Syekh Ahmad bin Muhammad Alawy Al Maliki, di Rusaifah,” bebernya.

BACA JUGA :  Sembako Meroket dan Serbuan TKA Cina, Penyebab Publik Tak Puas Kinerja Jokowi

Di tengah pembelahan dikotomis akibat situasi perpolitikan di tanah air, ia selalu berpandangan agar penilaian terhadap para ulama sebaiknya tidak dipengaruhi oleh penilaian atas preferensi politik mereka. “Hormati para ulama sama seperti halnya kita menghormati para guru atau orang tua kita.”

Lanjut Fadli, secara bahasa, puisi yang ditulis tidaklah rumit. Bahasanya sengaja dibuat sederhana agar dipahami luas. Hanya ada tiga kata ganti dalam puisi tersebut, yaitu “kau”, “kami” dan “-Mu”. Tak perlu punya keterampilan bahasa yang tinggi untuk mengetahui siapa “kau”, “kami” dan “-Mu” di situ. Apalagi, dalam bait ketiga, Fadli sengaja memberikan atribut yang jelas mengenai siapa “kau” yang dimaksud oleh puisi tersebut.

BACA JUGA :  Verifikasi Faktual Diganti Sipol, Awas Ada Persekongkolan Jahat

Pemelintiran seolah kata ganti “kau” dalam puisi tersebut ditujukan kepada K.H. Maimoen Zubair jelas mengada-ada dan merupakan bentuk fitnah. Tuduhan tersebut bukan hanya telah membuat tidak nyaman, tapi juga mungkin telah membuat tidak nyaman keluarga K.H. Maimoen Zubair. “Kami dipaksa seolah saling berhadapan, padahal di antara kami tidak ada masalah dan ganjalan apa-apa,” tangkisnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini