FOTO: Istimewa

FENOMENA “perselingkuhan” agama dan politik bukan barang baru di dunia. Dari zaman baheula, saat baginda membawa misi perubahan ke tengah masyarakat jahiliah, banyak mendapat pertentangan. Namun, baginda tak mundur, demi dakwah perintah Tuhan, lewat kitab suci. Dan, politik, termasuk harus berperang, dijadikannya alat untuk memperkuat agama. Bukan politik dijadikan tujuan dan agama dijadikan alat. Ingat!!!

Tapi, pasti pernyataan ini langsung diberondong sanggahan, ” itu lain”. Oke deh.

Namun, kita semua tahu, bahwa dakwah baginda ada nuansa politisnya. Tujuannya jelas, demi menyadarkan umat, agar tidak lagi yang menyembah berhala. Kemudian, membimbing mereka ke arah hidup yang lebih baik.

Kita tarik ke Tanah Air. Tak ada yang bisa membantah, sebagian dari para founding father-mother bangsa ini adalah para ulama, penyebar syiar agama.

“Jangan disama-samakan mereka dengan para politikus sekarang?”. Iya dah. Saya nggak akan menyamakan mereka. Lagi pula, kapasitas dan kapabilitas mereka, semua tahu,  semuanya visioner. Tidak memikirkan atau mengeyangkan perut sendiri, keluarga maupun kolega. Mereka bersedia dan siap menumpahkan darah, keringat, air mata, demi kemerdekaan di tanah Pertiwi ini.

Apalagi, cuma mengorbankan harta, materi, tentu itu bukan ukuran bagi mereka. Toh, nyawa saja siap mereka sumbangkan, yang penting bendera Merah Putih tegak berdiri.

BACA JUGA :  Demokrasi Dan Sejuta Aksi

Jadi jelas, nggak mungkin saya menyamakan politikus saat ini dengan para pendiri bangsa. Kita tetap mengakui, iktikad mereka sama, melalui kekuasaan, berbakti kepada bangsa. Mungkin cara dan strateginya yang berbeda.

Di tengah publik yang seolah terbelah. Supaya tidak mengatakan benar-benar terbelah antara “kampret” dan “cebong”. Para suporter makin garang. Kegiatan keagamaan selalu dicurigai ada agenda politik terselubung. Kok, politik diselubung. Kenapa tidak di “telanjangi” saja tabirnya, jika benar kegiatan keagamaan itu menguntungkan salah satu pihak.

Sudahlah, akhiri saja gaya garang sesama anak bangsa. Tak perlu menghunus pedang untuk menebas saudara sendiri.

Silahkan, melakukan ancang-ancang menyerang lawan dengan strategi yang sudah ditetapkan oleh “kepala” suku masing-masing. Namun ingat, tetap menjaga toleransi dan saling memastikan menjamin siapa pun bisa bersuara.

Toh, kebebasan berpendapat, kritik, adalah vitamin bagi demokrasi di Indonesia agar semakin menjulang tinggi. Kalau bisa “mengangkangi” atau  melampaui kemajuan negara-negara demokrasi yang sudah mapan. Dengan kata lain, Indonesia lebih demokratis ketimbang negara Mbah-nya demokrasi.

Bukan berarti merecoki negara lain. Katanya, perbedaan adalah anugerah, kenapa kita tidak saling menjamin, melindunngi, antar saudara. Pilihan politik boleh berbeda, tapi jangan sampai nilai-nilai kemanusiaan kita tikam, kita koyak-koyak isi perutnya. Karena ambisi politik yang tak punya visi.

BACA JUGA :  Penting! Jakarta Harus Jadi Tolak Ukur Toleransi

Kita semua sudah sepakat menancapkan demokrasi sebagai sistem yang dianut di Indonesia. Dengan kekurangan dan kelebihannya. Berarti, kita tidak boleh saling membenci. Berbeda dipersilahkan, tapi tak saling meyakiti.

Namun, sambil memejamkan mata, ya, bolehlah kita mengatakan, inilah paradoks berkebangsaan saat ini. Sebuah anomali demokrasi. Ingin saling meniadakan. Menutup ruang perbedaan. Tidak memberi tempat bagi orang netral bersikap. Saling lapor. Saling klaim kebenaran.  Saling menuduh, yang sana salah, di sini benar.

Apakah, begini cara kita mempertontokan berdemokrasi yang baik? mewariskan negara kepada para penerus? apakah iya kita tidak memiliki buku panduan menjalankan sistem demokrasi? tokoh yang jadi panutan dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi? apakah benar seperti itu? saya yakin, kita punya. Tentu, kita tak mau para pewaris tidak mendapatkan pembelajaran dari para eyang-eyangnya terkait pengelolaan negara.

Dan, saya optimis, kita semua mempunya gagasan, visi yang sama. Yakni memajukan bangsa Nusantara. Memastikan, Garuda tetap terbang tinggi. Bhineka Tunggal Ika, menjiwai sanubari bangsa Pertiwi. Pancasila selalu menjadi pandangan hidup bernegera. Mari kita bergandengan tangan sambil maraton menuju arah yang lebih baik.[***]

*) Penulis adalah Tio Pirnando, kerani di telusur.co.id

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini