AS Hikam

telusur.co.id – Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Abdurrahman Wahid, Muhammad AS Hikam menilai, dalam kontestasi politik, biasanya petahana menjadi pihak yang defensif dari serangan lawannya. Apalagi tidak segera menjelaskan dengan cepat apa yang diutarakannya sehingga masalah menjadi berkembang.

Hal itu terjadi pada Presiden Joko Widodo yang menuding kubu lawannya menggunakan “Propaganda Rusia” dalam kampanye politiknya. Jokowi lebih agresif dan offensif.

Menurutnya, itu terjadi akibat Jokowi tidak memiliki juru bicara dari kalangan profesional, untuk menghadapi serangan selama musim kampanye Pilpres 2019. Akibatnya, gaya komunikasi politik Jokowi terkesan berubah, yang tadinya defensif, menjadi lebih offensif.

Dia mencontohkan, Prrsiden AS Donald Trump, meskipun banyak pernyataannya yang mengundang kontroversi, tapi dia memiliki dua juru bicara yang siap pasang badan yakni Kellyanne Elizabeth Conway dan Sarah Sanders.

BACA JUGA :  Presiden Akan Hadir dan Buka Rakernas Hanura

“Donald Trump ini kan dikenal sebagai ‘ember bocor’, tetapi dia mempunyai dua orang yang mampu melakukan penetrasi terhadap statement atasannya,” kata Hikam dalam diskusi di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (9/2/19). 

Menurutnya, di kubu Jokowi belum ada orang yang mempunyai kapasitas untuk melakukan penetrasi itu kepada publik. Bukan hanya untuk persoalan kampanye, tetapi persoalan komunikasi, belum ada orang yang bisa menjadi bumper dan piawai melakukan penetrasi dalam hal komunikasi politik kepada publik. 

“Jadi kalau kita melihat perubahan gaya komunikasi politik Pak Jokowi yang terlihat atau dipersepsikan berubah, ya bisa jadi karena faktor orang dekat di sekeliling Pak Jokowi yang belum mampu menangkap sinyal-sinyal itu,” ungkap Pengamat Politik President University itu.

BACA JUGA :  Beri Jokowi Kartu Kuning, Pentolan BEM UI Dihujani Dukungan

Karenanya, dirinya menyarankan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, tidak hanya mengandalkan juru bicara dari kalangan partai politik.

“Dari TKN harus memilih orang yang profesional. Bukan hanya mencomot dari partai-partai politik saja, profesional juga kalau perlu,” jelasnya.

Menurut Hikam, Jokowi harus memiliki juru bicara yang agresif saat menanggapi serangan dari kubu lawan. Meski Jokowi punya sosok Ali Mochtar Ngabalin, yang memiliki gaya komunikasi agresif, dia hanya pegawai KSP, bukan Jubir.

“Ngabalin gak bisa karena dia pegawai KSP. Memang beliau bagus untuk offensif, tapi posisinya gak bisa,” tandasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini