Foto: net

telusur.co.id – Pengamat politik Pangi S Chaniago menduga, sikap Jokowi yang offensif karena mulai lelah dan khawatir dengan pertumbuhan elektabilitas Prabowo-Sandi yang terus naik bahkan berpotensi nyalip elektabilitasnya. 

“Pak Jokowi barangkali mulai lelah juga dengan propoganda offensif sang penantang terkait antek asing, impor, hutang dan tenaga kerja asing dan seterusnya. Sehingga dalam pidatonya yang cukup berapi-api, terjadi sesuatu yang tak biasa, pak Jokowi yang dulunya kalem “rapopo, ngak mikir” sekarang ofensif, bahasa kerennya pak Jokowi tancap gas menyerang balik terhadap sang penantang soal antek asing yang dialamatkan/dituduhkan ke Jokowi selama ini,” ujar Pangi, Minggu (10/2/19). 

Bukan itu saja, Pangi juga menduga, inkumben memakai strategi offensif bukan hanya agar tuduhan, serangan dan narasi negatif yang di alamatkan ke Jokowi mulai sedikit mereda. Melainkan, untuk melihat seberapa kuat daya tahan/kemampuan bertahan sang penantang dari serangan balik yang dilancarkan secara ofensif oleh kubu inkumben.

BACA JUGA :  Wasekjen Demokrat Anggap Pernyataan Anak Buah Prabowo Ngawur

Hanya saja, dengan adanya saling menyerang dan membela diri tersebut. Ia melihat, hanya akan ada kesemerawutan tuduhan yang tidak mendasar. 

“Sekali lagi, lalu yang antek asing  itu siapa? nyinyir dan saling tuding antek asing, sama sama ngak ngaku, sama sama ngak punya data dan bukti kuat, sehingga yang ada sampah, namun ngak kecium baunya,” ungkapnya. 

Oleh karena itu, pengajar di Universitas Bung Karno ini menyarankan, agar ke dua calon Presiden untuk kembali di jalur kampanye yang lebih subtantif. 

Dimana, bagi seorang petahana fokus saja memainkan peran, bagaimana satu persatu memenuhi/menjawab janji kampanye tempo dulue, apa yang diinginkan rakyat satu demi terjawab, menjelaskan semua kerja keras, monumen prasasti keberhasilan atau capaian pemerintah selama ini, agar masyarakat terpuaskan dengan kinerja petahana.

BACA JUGA :  Prabowo Disebut Calon Pemimpin Yang Emosional Dan Tempramental

Lalu, Peran yang coba dimainkan bagi sang penantang, imaginasi membaca sintemen perasaan publik. Seperti menjawab kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran rakyat dan mencoba memberikan harapan baru, dari janji yang mengawang-ngawang tidak commen sense untuk dijalankan sampai janji yang realistik untuk dijalankan dan ditepati. 

“Baiknya, balik saja ke trayek awal substansi kampanye dengan narasi dan literasi yang bernas, kembali bahas janji kerja, visi misi, harapan baru,” ungkapnya lebih lanjut. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini