Asisten Deputi Penelitian dan Pengkajian KUMKM Deputi Bidang Pengembangan SDM Christina Agustin saat membuka Seminar Paparan Hasil Penelitian Implementasi “Good Corporate Governance” Koperasi: Studi Kasus KJK Indonesia di Jakarta. Foto: Dok. Kemenkop

telusur.co.id- Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa tingkat kemampuan usaha koperasi Indonesia menuju persaingan global sekarang ini masih terbilang rendah, sehingga dipandang perlu adanya upaya pembenahan.

Hal itu diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan Kemenkop UKM terhadap implementasi Good Corporate Governance (GCG) Koperasi dengan studi kasus Koperasi Jasa Keuangan (KJK) Indonesia yang dilakukan belum lama ini.

Dalam globalisasi, penerapan Good Corporate Governance sangat menjadi faktor penentu keberhasilan dunia usaha.

“Ternyata masalah utamanya ada pada akuntabilitas dan transparansi yang masih rendah sehingga ke depan perlu ditingkatkan,” kata Peneliti Ahli Utama Kemenkop UKM, Johnny W. Situmorang di Jakarta, Kamis (7/2/19).

Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan supaya pemerintah mengeluarkan regulasi diantaranya berupa Peraturan Pemerintah (PP), dan Pemerintah Daerah dalam hal peningkatan kapasitas (pelatihan), penyuluhan, dan penelitian.

BACA JUGA :  Menteri Puspayoga Harap ICSB Lahirkan UKM Eksportir

“Penelitian sangat penting bagi koperasi untuk menjamin pengembangan inovasi yang menjadi tuntutan utama dalam pengembangan usaha,” papar Johnny.

Tak hanya itu, penelitian mengharuskan pemerintah mengeluarkan regulasi dalam hal mendukung pengembangan digitalisasi koperasi guna menghadapi era revolusi teknologi 4.0.

“Menghadapi revolusi teknologi 4.0 harus dan wajib tidak hanya literasi teknologi, tapi juga SDM kita harus openmind sehingga tujuan revolusi bisa tercapai,” ujar Asdep Penelitian dan Pengkajian KUMKM Kemenkop UKM, Chistina Agustin menambahkan.

Penelitian implementasi Good Corporate Governance (GCG) Koperasi dengan studi kasus Koperasi Jasa Keuangan (KJK) Indonesia ini dilakukan di empat wilayah, yakni Samosir (Sumut), Sanggau (Kalbar), Semarang (Jateng), dan Gorontalo.

BACA JUGA :  Sesmenkop Harap Jajarannya Bisa Bedakan Koperasi Bodong dan Tidak

Penelitian melibatkan 35 KJK, dan 90 pengelola KJK yang berasal dari empat wilayah tersebut. Dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk wilayah penelitian dan random sampling untuk KJK pada kerangka sampling NIK.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui performa dan mengetahui sejauhmana penerapan GCG koperasi Indonesia. Sedangkan manfaat yang diambil, yakni penelitian ini bisa menjadi masukan bagi kemajuan koperasi Indonesia.

“Selain itu, ini sebagai masukan untuk merumuskan kebijakan pembangunan perkoperasian, khususnya dalam rangka penguatan kelembagaan koperasi Indonesia,” tutup Chistina.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini