Haz Pohan,Diplomat Senior, mantan Duta Besar RI untuk Polandia/Dok pribadi (FB).


Oleh Haz Pohan

KETIKA Rocky Gerung menjelaskan beda antara ‘fiksi’ dan ‘fiktif’ dalam kaitan kitab suci, publik pun terhenyak. Tidak terbayangkan sebelumnya betapa cerdasnya beliau dan akhirnya saya kini mengakui beliau adalah ‘seniman kata-kata’. Kata-kata menjelaskan konsep, arti dan makna. Semakin piawai menggunakan kata-kata dengan presisi dan makna sesuai dengan yang dipilih maka semakin canggih intelektualitas penuturnya.

Saya menikmati diskursus ini, karena saya juga bermain dengan kata-kata. Ini permainan ilmu semantik, atau memahami makna kata. Kata-kata merupakan ‘senjata diplomat’. Tanpa ini perundingan akan ruwet dan bahkan membingungkan diri sendiri. Begitu.

Fiksi atau dunia imajinatif, dipercaya akan terwujud. Bisa juga tidak terwujud segera dan manusia perlu menunggu ribuan bahkan ratusan ribu tahun, dalam konteks kitab suci adalah fiksi. Atau fiksi itu tidak akan pernah terwujud. Siapa tahu.

Sedangkan kata ‘fiktif’ berarti palsu, bukan realitas. Jelas, Rocky tidak mengatakan kitab suci —dalam definisi generik—adalah fiktif atau palsu. Rocky juga tidak menyebut apa yang dia maksud dengan kata ‘kitab suci’ karena kata benda ini tidak definitif, seperti konsep yang kita kenal dalam bahasa-bahasa asing yang mengenal kata sandang ‘the’ dalam bahasa Inggeris atau ‘le-la’ dalam bahasa Prancis. Kita hanya mengenal kata definitif yang dilekatkan pada kata benda dengan menambahkan ‘ini’ atau ‘itu’, seperti dalam kalimat “buku ini” atau “buku itu”. Tanpa kata sandang maka ‘kitab suci’ itu bermakna generik.

BACA JUGA :  Fahri Hamzah dan Budiman Sujadmiko Adu Argumen Soal Ambulance

Maka saya teringat ketika anak kedua saya, Edwin ketika berumur 9 tahun, bertanya pada saya dalam bahasa Inggeris: “Ayah, mana yang lebih penting antara pengetahuan atau imajinasi?”

Saya tak siap menjawab. Kaget karena kok bisa anak seusia ini bertanya bak filosof?

Ah, mungkin dia mendapat pertanyaan ini di sekolahnya, tingkat sekolah dasar Public School di Rego Park, New York.

Saya mencoba mereka apa jawaban yang tepat, sambil otak ini berputar ke kiri ke kanan.

Belum sampai pada konklusi, anak saya menjawab sendiri dan menjelaskan.

“Pengetahuan adalah hasil proses berfikir dan pengujian. Imajinasi adalah pendorong manusia memecahkan rahasia semesta. Jadi yang lebih penting adalah imajinasi. Karena imajinasi lahirlah pengetahuan, dan penyusunannya secara terstruktur dengan kaedah yang ketat melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diperbarui pula berkat imajinasi-imajinasi baru,” katanya.

Imajinasi lebih penting dari pengetahuan itu kata Einstein, katanya. Mungkin dia mengutip dari gurunya di sekolah. Wah, ketika belajar filsafat di Fakultas Hukum menjelang penulisan skripsi, profesor saya tak pernah mengajarkan hal ini.

Memang imajinasi menjadi sangat penting. Ini berkaitan dengan visi atau kegiatan ke depan. Untuk memecahkan rahasia alam, mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi, maka manusia berilusi, berimajinasi. Maka tepat, ketika Rocky menyatakan imajinasi itu energi, atau sumberdaya penggerak.

BACA JUGA :  Rocky Gerung: Para Kecebong Dilatih di Pusat Hoax Nasional

“Kalaulah air bersih mencukupi di kampung ini, maka kita tak perlu berjalan kaki sekian kilometer menuju mata air di gunung itu,” kata seorang warga.

Maka terbayang dalam imajinasi mereka akan hidup yang lebih baik, lebih membahagiakan. Hidup lebih sehat.

Atas imajinasi ini akhirnya mereka memecahkan rahasia hidup, mempermudah kehidupan, dan pencapaian ini suatu kebahagiaan, dengan menemukan jalan bagaimana mengalirkan air dari gunung ke perkampungan penduduk.

Membayangkan hidup tenteram jauh dari grusa-grusu karena kepentingan politik sesaat harus pula didukung dengan ikhtiar. Harus ada ikhtiar bersama secara beradab untuk menyudahi ketidakteraturan.

Sudahkah kita berikhtiar agar keadaan yang centang perenang ini menjadi tertib dan teratur? Ya, tunggulah dalam beberapa bulan ini kita bereskan kecentang-perenangan ini, kata seorang teman.

Mari kita berimajinasi hidup di Republik ini menjadi baik. Mari kita ikhtiarkan dan wujudkan visi tadi. Mari kita imajinasikan bagaimana nikmatnya keteraturan daripada kebisingan tak perlu ini. Bahwa hasilnya juga pengetahuan bahkan kesadaran, Alhamdulillah.

Jadi, anak saya benar: imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan.[***].

Kedah, 11 Februari 2019

Like :

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini