Mohammad Hatta/Net


Oleh : Mohammad Hatta

Sudah kerapkali disebut orang dan juga dibicarakan dalam surat kabar, bahwa pergerakan nasional sekarang terlalu banyak memperbicangkan hal dan soal politik, akan tetapi menyia-nyiakan ekonomi rakyat. Pada hal rakyat yang perutnya berkeroncongan tidak dapat hidup dari politik saja. Haruslah ia mendapat jalan bagaimana mesti makan. Tidak heran, kalau ada timbul pertanyaan : apa yang diperbuat oleh partai-partai politik untuk memperbaiki ekonomi rakyat? Apakah tidak perlu ekonomi di taruh di muka dan politik di tingkat yang kedua? Soal politik dan ekonomi itu memang satu soal yang penting. Apalagi di waktu sekarang, selagi rakyat ditimpa oleh suatu krisis yang maha hebat, sehingga penghidupannya jadi kucar-kacir. Bertambah penting pula soal ini berhubung dengan keadaan politik sekarang. Rakyat akan menjengkel, kalau orang berpolitik di atas podium saja.

Di sini Pendidikan Nasional Indonesia menentukan sikap yang terang. Sudah lama diketahui, bahwa politik dan ekomomi harus sejalan, sama mendorong ke muka. Dan ujud segala politik ialah memperbaiki penghidupan rakyat jelata. Bukan satu golongan kecil saja yang harus hidup senantiasa, melainkan rakyat jelata harus mendapat penghidupan yang berbahagia.

Politik dan ekonomi harus sejalan, sama mendorong ke muka! Politik berusaha untuk menuntut hak rakyat, untuk meluaskan medan pergerakkannya dan untuk memperoleh kemerdekaan rakyat. Ekonomi berusaha untuk memperbaiki dan menyelamatkan penghidupan rakyat, untuk melepaskan rakyat dari kongkongan asing atau tindasan kaum majikan, pendeknya memerdekakan penghidupan rakyat. Ekonomi yang tidak memakai haluan ini—tetapi hanya mengingat keperluan golongan atau kelas sendiri—niscaya akan patah di tengah, akan menjadi umpan Kapitalisme Barat.

Politik yang tidak ditunjang ekonomi tidak sempurna hasilnya. Demikian juga pekerjaan ekonomi tidak akan selamat, kalau tidak ditunjang oleh pergerakan politik.

BACA JUGA :  Menyebarkan Cita-Cita Bung Hatta dari Boven Digul

Siapa yang menyangka, bahwa perusahaan ekonomi dapat dikerjakan lepas semata-mata dari politik, orang itu tidak insyaf akan kedudukan Tanah Jajahan dan tidak mengerti akan pengaruhnya koloniale politiek.  Bagaimana akan mendapat penghidupan rakyat merdeka, kalau pangkal kekuasaan masih di tangan bangsa asing?, bagaimana memajukan ekonomi sendiri, kalau si asing yang berkuasa dapat membuat bea ini dan bea itu? Sebab itu, tidak salah apa yang kerap kali dibicarakan oleh pemimpin-pemimpin politik Indonesia, bahwa kemajuan ekonomi yang sempurna baru boleh didapati kalau  Indonesia sudah merdeka! Sungguhpun begitu kita tidak boleh putus asa memperkuat pertahanan ekonomi rakyat. Karena machtsvorming (susunan tenaga) yang kerap kali disebut –sebut harus ternyata pula di medan ekonomi. Tak perlu disebut panjang, bahwa kapitalisme dan imperialisme barat itu tidak dapat ditewaskan dengan politik saja, melainkan juga dengan bantuan barisan ekonomi sendiri. Untuk menentang kekuasaan ekonomi asing harus berdiri susunan ekonomi sendiri. Biarpun ia belum dapat sempurna selagi kita diperintah orang, tetapi susunan ekonomi kita memperkuat juga susun-tenaga rakyat.

Suatu pasal lagi yang tidak boleh dilupakan : Apa sebab politik bekerja seperti perambah jalan untuk lalu lintas ekonomi? Kapitalisme asing yang bermaharajalela di negeri kita, di atas penjagaan koloniale politik, sudah merusak pergaulan hidup rakyat kita. Riwayat Oost Indische Compagnie (OIC),  di negeri kita ini, kisah culturestelsel  dan lain-lainnya sampai cukup diuraikan di halaman majalah kita ini atau di dalam kitab Tujuan Pergerakan Nasional di Indonesia, sehingga tak perlu lagi diulang. Cukuplah kalau diperingatkan, bahwa penghidupan rakyat kita melarat karenanya keadaan tubuh dan akal rakyat hilang sama sekali.

BACA JUGA :  Politik Perekonomian Negara : Melaksanakan Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945

Jadi bagaimana memajukan ekonomi, kalau rakyat tidak insyaf akan harga dan arti dirinya, kalau rakyat tak tahu mempertahankan haknya sendiri? Bagaimana memperbaiki ekonomi rakyat, kalau rakyat tinggal bodoh, mau saja dikelabui matanya, takut karena gertak majikan asing, tak tahu mempergunakan tenaga ekonominya? Selama rakyat belum percaya akan diri dan kesanggupan sendiri, selama ia mengharapkan belas kasian dari luar, selama itu pula pergerakan ekonomi tidak akan berhasil. Misalnya bagaimana memperbaiki nasib kaum tani, kalau petani masih dapat ditipu oleh juragan-juragan pabrik yang menyewa tanahnya untuk ditanami tebu dengan harga yang begitu murah? .

Nyatalah, perlu ada keinsyafan pada rakyat, ada pengertian atas harga dirinya, barulah pergerakan ekonomi boleh berarti dan berhasil. Untuk membangkitkan keinsyafan dan pengertian itu, haruslah ada didikan politik, karena polirik menimbulkan kesadaran rakyat, memperingatkan kepadanya, bahwa ia sebagai rakyat mempunyai hak.Istimewa pula politik non-cooperation yang radikal, yang menerangkan setajam-tajamnya perbedaan “sana” dan “sini”, Pertentangan kebutuhan antara si penjajah dengan yang  terjajah. Nyatalah pula,bahwa dalam hal yang demikian itu politik harus jalan dahulu, merambah jalan dan membangun rasa manusia dalam hati rakyat. Dan kalau rakyat sudah mulai sadar, sudah tahu menghargai dirinya sendiri dan mempergunakan tenaganya, barulah tadi dapat dijalankan dengan betul, bahwa politik dan ekonomi harus sejalan,sama mendorong ke muka.

Demikianlah duduknya soal politik dan ekonomi di dalam pergerakan nasional kita. Siapa yang menyia-nyiakan kebenaran ini, tentu akan sesat  di jalan, membuang tenaga percuma.[***].

Sumber : Mohammad Hatta “Politik dan Ekonomi”  halaman 187-189, Karya lengkap Bung Hatta ; pengantar Emil Salim,  Buku 4,  Keadilan dan Kemakmuran ;Cetakan pertama, Desember 2015, penerbit LP3ES Jakarta

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini