Dr.H. Joni/telusur.co.id


Oleh: Dr.H. Joni.SH.MH.

Debat yang dilaksanakan untuk kali kedua berkaitan dengan Pilpres ini adalah untuk kandidat capres. Debat digelar pada Ahad (17/2/2019) di Hotel Sultan, Jakarta.

Tema debat adalah soal energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup dan kehutanan, serta infrastruktur. Jika ditarik ke atas, kesemuanya itu berhubungan, dan bahkan tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan sosok pekerja. Berbagai elemen itu akan berfungsi dan berlangsung baik jika dilaksanakan oleh para pekerja yang berdedikasi dan profesional.

Seampuh apapun konsep yang dijadikan sebagai kebijakan dalam pengelolaan tema yang sangat strategis itu, tanpa dilaksanakan oleh pekerja yang profesional tidak akan dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu posisi pekerja adalah kunci. Untuk itu pula, sangat layak diapresiasi, posisi pekerja yang dengan dedikasi dan profesionalismenya menjadi kata kunci dalam perputaran roda perekonomian yang berbaris eneregi serta sumber daya alam dimaksud.

Sisi ini, yang kianya layak menjadi apresiasi yang tidak boleh diabaikan. Tidak saja dalam perdebatan capres, tetapi dan terlebih lagi dilaksanakan oleh siapapun presidennya. Artinya posisi tenaga kerja, menjadi sedemikian sentral dan tidak terpisahkan, bahkan menjadi yang utama dalam pembuatan kebijakan maupun dalam pelaksanannya.

Tema Pekerja
Merefleksikan pada tagline kinerja presiden Jokowi, yaitu: “kerja…kerja…kerja”, merupakan apresisasi terhadap semangat untuk terus bekerja, berkarya sesuai bidang masing masing. Dengan ciri khas baju putih disingsingkan memberikan pemahaman tentang budaya kerja.

Bekerja keras tanpa kenal Lelah sebagai bentuk dari upaya mengejar ketertinggalan, meraih kemajuan dan kesejahteraan Bersama.
Terlepas darri perspektif politis, hal semacam itu secara universal merupakan sesuatu yang bersifat lumrah. Artinya memang menjadi kewajiban setiap manusia sehat untuk bekerja. Untuk terus berkarya sesuai panggilan jiwanya. Tidak semata sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bekerja juga merupakan refleksi dari citra diri. Tidak semata berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan ekonomi diri dan kjeluarga. Lebih dari itu bekerja adalah refleksi dari citra mahluk hidup.

Senyampang (selagi .red) masih bias bernafas dan bergerak, menjadi keharusan untuk bekerja sesuai kemampuan. Menjadi kewajiban manjusia hidup untuk terus bekerja, apapun dan bagaimanapun, bekerja merupakan aktivitas yang melekat dengan hidup itu sendiri.

Hari Pekerja Nasional
Seiring dengan diposisikannya para pekerja secara sentral, maka sekadar sebagai semacam penyemangat dalam meniti citra kehidupan dengan bekerja, maka pada setiap tanggal 20 Februari diperingati sebagai Hari Pekerja Nasional. Penetapan sebagai hari pekerja nasional ini secara administratif tertuang dalam surat Keputusan Presiden No. 9 Tahun 1991 tentang Hari Pekerja Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.

BACA JUGA :  Memilih Wakil Presiden Yang Peduli Terhadap Hajat Primer Seluruh Manusia, Yaitu Sumber Daya Air

Merujuk pada penetapan hari dimaksud, pada tanggal 20 Februari 1973, Serikat Pekerja dari berbagai perusahaan mendeklarasikan pembentukan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), tepatnya pada tanggal 20 Februari 1973, sebagai tokoh pertama yang kemudian diangkat sebagai ketuanya adalah Agus Sudono. Bersejarah, namanya tercatat sebagai Ketua Umum FBSI pertama yang menjabat beberapa periode kepemimpinan.

Idealisme dari pembentukan FBSI adalah agar para pekerja yang tergabung dalam serikat pekerja tersebut lebih meningkatkan produkitvitas. Para pekerja itu ingin meyederhanakan dan menyatukan semangat seluruh pekerja di seluruh Indonesia.

Kemudian para pimpinan Serikat Pekerja tersebut bertekad mewujudkan aspirasi para pekerja dengan mendeklarasikan pembentukan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) sebagaimana dimaksud. Organisasi ini dalam perkembangannya berubah menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Idealisme untuk menyatukan semacam visi dan misi para pekerja itu dirintis sebagai upaya menyatukan para pekerja. Pada awalnya FBSI memiliki keanggotaan 21 serikat buruh, 21 serikat buruh (vak sentral) yang terintegrasi dan terorganisir ke dalam 21 Serikat Buruh Lapangan Pekerjaan (SBLP) yang bersifat sektoral.

Pada tahun 1984, FBSI bersama organisasi-organisasi buruh se-ASEAN mendirikan ASEAN Trade Union Council (ATUC). ATUC adalah forum tukar menukar infomasi dan pengalaman dan kerja sama antar serikat buruh se-ASEAN yang menjadi anggotanya.

Artinya perkembangan organisasi ini tidak semata bersifat nasional tetapI sudah menjadi organisasi regional, yang berafiliasi pada organisasi pekerja internasional di bawah otoritas Perserikatan Bangsa Bangsa PBB).

Pada perkembangan berikutnya, FBSI diubah menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia pada Kongres FBSI tanggal 23-30 November 1985. Hari Pekerja Nasional di peringati untuk menumbuhkan jati diri di kalangan pekerja Indonesia, dan untuk lebih meningkatkan kebanggaan para pekerja Indonesia dalam rangka memotivasi pengabdiannya kepada pembangunan Nasional yang dilandasi sistem Hubungan Industrial Pancasila.

Perkembangan Berikut
Dalam perkembangannya, organisasi apapun, yang bersifat massal pada akhirnya mau tidak mau suka tidak suka akan berorientasi dan mengarah pada dimensi politis. Tak terkecuali dalam perkembangan organisasi para pekerja.

Dalam perkembangannya posisi para pekerja semakin kuat dalam hal bernegoisiasi, khususnya berhadapan dengan pengusaha tempat mereka bekerja.

Di setiap unit kerja kemudian berdiri serikat pekerja ini, yang kemudian berubah menjadi kekuatan besar yang boleh dikatakan mempunyai kedudukan sejajar dengan pengusaha. Dalam arti ketika muncul masalah mereka mempunyai kekuatan untuk bernegosiasi dan mempunayi akses untuk memengaruhi kebijakan dalam hal ketehnagakerjaan di tanah air.

BACA JUGA :  Begitu Strategisnya Masalah Agraria, Capres yang Mengapresiasi Masalah Inilah Harusnya Dipilih

Organisasi pekerja ini kemuduian bahkan mempunyai kekuatan yang besar untuk bernegosiasi dengan pengusaha. Berbagai perhitungan tentang operasionalisasi perusahaan, semisal industri, mereka ketahui dan sifatnya terbuka.

Di sini ketika awalnya posisi hubungan kerja itu hanya antara pekerja dan pengusaha, dan bersifat privat kini telah merubah. Pemerintah harus terlibat dalam berbagai poermasalahan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan.

Posisinya tidak semata sebagai hubungan hokum yang tunduk pada hukum privat, dalam perkembangannya menjadi semi public dan bahkah akhir akhir ini sudah mengarah sepenuynya kepada hukum publik. Campurtangan negara dalam kaitannya dengan perlindungan terhadap para pekerja sedemikian besar.

Hal ini juga menunjukkan komitmen yang sangat apresiatif terhadap kepentingan pekerja, yang intinya adalah perlindungan terhadap hak mereka sehingga tidak bisa begitu saja diabaikan oleh para pengusaha.

Nilai Substantif
Nilai dari diapresiasinya hari pekerja nasional, yang secara kebetulan beriringan dengan debat capres tentang sumber daya alam dengan segala dimensinya mengingatkan kepada sesuatu. Sesuatu dimaksud keharusan para pekerja untuk terus meningkatkan produktivitas. Hal ini menjadi bagian terpenting dari upaya untuk terus meningkatkan produksi nasional.

Tidak semata sebagai bagian dari peningkatan kualitas dan kuantitas produk dan jasa. Lebih dari itu dalam kancah global peningkatan produktivitas ini menjadi sangat pemnting di kancah persaingan global. Ketika semua negara berloma untuk menigkatkan poroduktivitas, maka mau tiak mau suka tidak suka dengan terus bekerja, dengan tema kerja…kerja…kerja…juga berorientasi pada terwujudnya kualitas kerja yang prima dalam kerangka menghadapi persaingan global.

Para pekerja tidak boleh hanya semata menuntut hak yang secara normatif melekat pada status pekerjaan dan menjadi hak asasi dari para pekerja. Lebih dari itu, dan yang terpenting adalah dengan terus meningkatkan kualitas kinerja, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas produk.

Termasuk harus senantiasa berorientasi pada persaingan global atas produk yang sama, sehingga produk dalam negeri tidak akan kalah bersaing dan bahkan mempunyai nilai kompetitif yang lebih unggul dibandingkan dengan produk luar negeri.
Ayo, terus tingkatkan karya, para pekerja Indonesia.***

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini