telusur.co.id – Bisa dipastikan Capres petahana Jokowi akan pamer keberhasilan pembangunan infrastruktur yang masif sebagai bukti sukses pemerintahannya pada debat Pilpres ke-II, Minggu (17/2/19) besok.

Tetapi, menurut Dosen Pascasarjana Pakuan, Andi Asrun, hal itu justru akan jadi makanan empuk bagi sang rival Capres nomor 02, Prabowo Subianto untuk melumat Capres nomor 01 tersebut.

“Banyak kritik untuk proyek infrastruktur,” kata Dosen Universitas Pakuan saat dihubungi telusur.co.id, Sabtu (16/2/19).

Apalagi, Andi memaparkan, sebelumnya Wapres Jusuf Kalla (JK) pun mengkritik proyek LRT Jabodetabek. Karena bagi JK, akan lebih murah bila dibangun di tanah bukan di atas tanah (elevated).

Andi melanjutkan, contoh lain salah strategi pembangunan infrastruktur adalah Jalan Tol Bertingkat Jakarta-Cikampek yang dikerjakan bersamaan dengan proyek LRT dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang bukan kebutuhan mendesak.

Diperkirakan tidak akan rampung sampai hari pencoblosan 17 April. “Publik juga bertanya-tanya berapa banyak kendaraan yang akan melintasi jalan trans Papua,” ujarnya.

BACA JUGA :  Tak Hanya Dipolisikan Bupati Boyolali Juga Dibawaslukan

Contoh kesalahan paling telak, lanjut Andi, adalah pembangunan LRT Palembang yang sangat merugikan akibat biaya operasional sekitar Rp10 miliar per bulan dibandingkan pemasukan per bulan yang hanya Rp2 miliar.

Lebih jauh, Andi menjelaskan, di luar kelemahan pembangunan proyek infrastruktur, Prabowo juga akan secara mudah mengoreksi kebijakan ekonomi Jokowi yang sering “buat sejam dan batalkan sejam kemudian” seperti Keputusan Pemerintah menaikkan harga BBM oleh Menteri Jonan dan dibatalkan Jokowi tidak lama kemudian.

“Paling anyar adalah pembatalan bebasnya Abu Bakar Baasyir oleh Menkopolhukam Wiranto atas Keputusan Jokowi di hari sebelumnya,” katanya.

Menurut dia, pembatalan kebijakan pemerintah hanya dalam waktu sekejap memperlihatkan kelemahan kualitas manajemen pemerintahan Jokowi.

BACA JUGA :  Punya Perjanjian, PKB Tetap Dukung Jokowi

“Jadi, segenap kelemahan itu akan jadi makanan empuk bagi Prabowo untuk melumat Jokowi di Debat Pilpres kedua.”

Sementara itu, pengamat politik Rusmin Effendy mendesak KPK mengusut dugaan mark up dan potensi kerugian negara akibat pembangunan infrastuktur sejak era Jokowi.

“Saya pastikan ada ketidakwajaran dan berpotensi penyalahgunaan keuangan negara dari segi nilai pembangunan maupun speck yang dibangun tidak memenuhi standar. Jadi siapa bilang tidak ada korupsi dan mark up,” kata dia.

Rusmin menyarankan dalam debat II nanti kubu Prabowo harus berani menyerang petahana yang selalu mengklaim berhasil membangun infrastruktur.

Padahal, tol yang dibangun tidak lagi menjadi milik bangsa, tapi melibatkan konsorsium asing. Wajar saja kalau jalan tol harganya tinggi dan bukan untuk rakyat. Jadi, apa yang dibanggakan Jokowi sama pembangunan infrastuktur dan tol. [sep]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini