Calon Presiden RI, Prabowo Subianto / Net

telusur.co.id – Janji Presiden Joko Widodo untuk kedaulatan pangan berbanding terbalik pada kenyataannya.

Demikian pendapat Pengamat politik Pangi Chaniago, dalam keterangan kepada wartawan, Sabtu (16/2/19).

Padahal, kedaulatan pangan adalah salah satu program prioritas Jokowi yang dituangkan dalam Nawacita. Bahkan, dalam kepemimpinannya, Jokowi punya target mewujudkan itu lewat swasembada dalam tiga tahun.

Namun sayang, kenyataannya petani harus menelan pil pahit karena banjirnya komoditas pangan impor ke Indonesia saat waktu panen.

Merujuk data statistik, impor beras sejak awal tahun pemerintahan Joko Widodo, impor beras terus tumbuh dari 844 ton menjadi 861 ton di 2015. Terus meroket menjadi 1,28 juta ton di tahun 2016, sempat turun ditahu 2017 menjadi 305 ribu ton, namun kembali meroket di tahun 2018 menjadi 2,25 juta ton.

BACA JUGA :  Ucapan Jokowi soal Kebakaran Hutan Di Bantah Greenpeace

“Aneh bin ajaib, bukannya trend impor pangan berkurang, justru meroket, jadi nawacita mana yang mau kita pratekkan soal ketahanan pangan yang mandiri? Bertumpu dan pencaya diri pada petani kita yang mampu berdiri sendiri dan mengurangi ketergantungan (dependensi) impor pangan,” kata Pangi.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah sadar bahwa dalam setiap kebijakan akan ada konsekuensi logis yang harus ditanggung, sebagai dampak dari kebijakan tersebut.

Apalagi, dalam tahun politik semua isu akan dikapitalisasi demi kepentingan politik elektoral.

“Sebagai petahana Jokowi harus ‘siuman’ akan situasi ini, apalagi dalam debat kedua nanti ketahanan pangan akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas. Tema ini akan menjadi salah satu titik lemah petahana apalagi diakaitkan dengan janji politik 4 tahun lalu yang bakal ditagih sang penantang,” kata dia.

BACA JUGA :  Giliran Fahri Hamzah Kasih Jokowi Kartu Merah

Bukan hanya kepada Jokowi, Pangi juga mengingatkan kepada pasangan penantang, yakni Prabowo-Sandiaga agar bisa menawarkan solusi yang lebih rasional dan operasional sehihgga menjadi logis di mata publik.

“Penguasaan data dan pemecahan masalah dengan menawarkan solusi yang lebih konkret akan lebih bermakna dibandingkan dengan hanya mengkritik membabi-buta. Janji muluk hanya akan menjadikan penantang tidak akan dilirik oleh pemilih dan akan kehilangan kesempatan seperti pada debat pertama yang seolah petahana memojokkan penantang,” katanya.

Diketahui, besok malam kedua pasang calon presiden dan wakil presiden, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi akan kembali tampil dalam debat capres ronde dua. Dalam yang diselenggarakan KPU mengambil tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini