ledakan bom di gereja Katedral di Jolo, provinsi Sulu, Filipina selatan, pada Minggu (27/1/19). FOTO: Istimewa

telusur.co.id – Dugaan keterlibatan WNI dalam pengeboman di sebuah gereja di Pulau Jolo, Filipina, pada 27 Januari 2019 masih menjadi tanda tanya. Apalagi, hingga kini belum ada kepastian mengenai identitasnya.

Hal itu diungkapkan Duta Besar RI untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa. Harry menyatakan Kepolisian Nasional Filipina (PNP) belum merilis bukti keterlibatan pihak yang dituduhkan.

Tes DNA yang sedang dikaji dan diteliti juga belum dikeluarkan oleh aparat kepolisian.
“Otoritas setempat belum mengeluarkan hasil uji DNA serta gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan,” beber Harry.

Dilanjutkan Harry, tudingan keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri dan serangan teror telah beberapa kali disampaikan pemerintah Filipina kepada media massa tanpa adanya dasar pembuktian dan hasil investigasi terlebih dahulu.

Tuduhan keterlibatan WNI pernah disampaikan saat terjadi ledakan bom di Kota Lamitan, Provinsi Basilan, pada 31 Juli 2018 serta ledakan bom menjelang tahun baru 2019 di Kota Cotabato atas nama Abdulrahid Ruhmisanti.

Meski demikian, hasil investigasi menunjukkan tidak ada keterlibatan WNI dalam dua peristiwa pengeboman tersebut sebagaimana pernyataan aparat dan pemberitaan media massa.

Harry ingin menyampaikan pesan bahwa tudingan Menteri Dalam Negeri (Secretary of Interior and Local Government) Filipina Eduardo Ano belum tentu benar.

Seperti diberitakan, dugaan mengenai keterlibatan dua WNI sebagai pelaku bom bunuh diri yang mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan 100 orang luka-luka pertama kali disampaikan oleh Eduardo Ano.

Dalam sebuah konferensi pers di Provinsi Visayas, Filipina, 1 Februari lalu, Ano menyebut pelaku bom bunuh diri adalah pasangan suami istri WNI bernama Abu Huda dan seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya.

Kedua pelaku dibantu oleh Kamah, anggota kelompok Ajang Ajang yang berafiliasi dengan kelompok Abu Sayyaf. Faksi tersebut telah menyatakan dukungannya kepada jaringan teroris IS.

Namun, berdasarkan hasil pendalaman yang dilakukan KBRI Manila dan KJRI Davao, pihak intelijen Filipina (NICA) sendiri belum mengetahui dasar penyampaian informasi yang dilakukan Menteri Ano tentang keterlibatan WNI dalam insiden tersebut. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini