Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik Universitas Indonesia (FISIP UI) Arbi Sanit saat berbicara dalam diskusi bertajuk "Indonesia Barokah dan Perang Melawan Hoaks" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (2/2/19).FOTO:telusur.co.id

telusur.co.id – Tabloid Indonesia Barokah yang beredar dinilai membuat sebuah nuansa. Informasi yang dimuat dalam tabloid tersebut berdampak kepada salah satu kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Begitu dikatakan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik Universitas Indonesia (FISIP UI) Arbi Sanit saat berbicara dalam diskusi bertajuk “Indonesia Barokah dan Perang Melawan Hoaks” di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (2/2/19).

“Barokah ini membuat nuansa, jadi tidak langsung, tetapi informasinya berdampak terhadap kubu lain,” ujar Arbi.

Menurut Arbi, informasi yang terdapat dalam Tabloid Indonesia Barokah membuat satu kelompok merasa dirugikan.

BACA JUGA :  Pengamat: Bukan Hal Susah Ungkap Siapa Pembuat Tabloid Indonesia Barokah

“Dan membuat kesimpulan orang menjadi salah. Kalau bisa dikategorikan, mungkin sejenis koran kuning,” tandasnya.

Koran kuning adalah sebutan bagi media yang berisi berita atau informasi seputar “dunia hitam” -kriminalitas dan seks. Ideologi jurnalistik koran kuning adalah sex and crime journalism, dikenal juga dengan sebutan Yellow Journalism, Yellow Papers, dan Gutter Journalism (Jurnalisme Got).

Seperti diketahui, Tabloid Indonesia Barokah beredar di sejumlah daerah. Tabloid tersebut dikirim melalui PT Pos Indonesia dan dialamatkan ke masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren.

Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Fritz Edward Siregar mengatakan peredaran Tabloid Indonesia Barokah sudah luas.

BACA JUGA :  Bawaslu Kalbar Laporkan Tabloid Indonesia Barokah Ke Polisi

“Penyebarannya hampir ke seluruh Indonesia,” kata Fritz, Selasa, (29/1/19).

Provinsi yang sudah dimasuki tabloid Indonesia Barokah adalah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Papua Barat, NTT, NTB, Bali, Sumatera Selatan, Sumatera Utata, dan Kalimantan Timur.

“Paling banyak di daerah Yogyakarta. Tapi sudah terdistribusi hampir ke seluruh provinsi,” katanya. [sbk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini