Foto: Kantor Berita AFP

telusur.co.id – Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar mengatakan kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menarik tentara AS dari Suriah tidak boleh memberi ruang kepada teroris.

“Membersihkan organisasi teror YPG dari Suriah sangat penting bagi keamanan rakyat dan perbatasan kami,” kata Akar ketika berbicara dalam Konferensi Keamanan Munchen.

Hulusi Akar kembali menyatakan bahwa meskipun menggunakan nama yang berbeda, kelompok gerilyawan PKK, PYD dan YPG pada hakikatnya adalah kelompok yang sama. Turki telah menjanjikan operasi lintas-perbatasan di Suriah terhadap anggota YPG/PYD di sebelah timur Sungai Eufrat, setelah dua operasi serupa sejak 2016.

Dalam aksi lebih dari 30 tahun terhadap Turki, PKK –yang dimasukkan ke dalam organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa– telah bertanggung-jawab atas kematian sebanyak 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. PYD/YPG adalah cabang PKK di Suriah.

Sementara itu sebanyak 250.000 warga yang kehilangan tempat tinggal di Tal Rifaat, Suriah, berjuang untuk bertahan hidup di berbagai kamp yang didirikan di sepanjang perbatasan Turki akibat pendudukan selama tiga tahun atas kota mereka oleh kelompok YPG/PKK.

Pada Februari 2016, anggota YPG/PKK merebut Tal Rifaat –yang berada di sebelah tenggara Afrin, yang saat itu juga berada di bawah pendudukan gerilyawan– dengan bantuan dukungan udara Rusia.

Dengan melakukan itu, gerilyawan berharap bisa mengukuhkan cengkeraman mereka atas wilayah di antara tepi timur Sungai Eufrat dan Afrin Barat, sehingga menghubungkan semua wilayah yang mereka kuasai.

Namun, Kabupaten Al-Bab –yang berada di antara Tal Rifaat dan Manbij– jatuh ke dalam daerah yang dibebaskan oleh Operasi Perisai Eufrat oleh Turki, sehingga gerilyawan tak mungkin bisa menghubungkan kedua wilayah itu.

Operasi Perisai Eufrat, yang dimulai pada Agustus 2016 dan berakhir pada Maret 2017, bertujuan menjamin keamanan dan menghapuskan ancaman pelaku teror di sepanjang perbatasan Turki.

Selama pendudukan awalnya atas Tal Rifaat, gerilyawan YPG/PKK memaksa sebanyak 250.000 warga Arab di kota itu untuk meninggalkan rumah mereka.

Jadi, selama tiga tahun belakangan ini banyak orang yang kehilangan tempat tinggal tersebut telah menetap di Kota Azaz –yang berdekatan dan berada berdampingan dengan daerah Operasi Perisai Eufrat. (ham)

Like :
BACA JUGA :  Amerika Batalkan Bantuan 300 Juta Dolar Ke Pakistan

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini