telusur.co.id – Sekretariat Nasional Jokowi mendorong para khatib atau penceramah di masjid turut menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menghindarkan diri dari ceramah yang dapat memecah belah.

“Agar aktivitas penyiaran agama berisi narasi yang penuh kedamaian, mempersatukan, keramahan, toleran, meneduhkan, dan sadar akan pluralitas elemen bangsa dalam aktivitas penyiaran agama,” Jokowi Ismarilda Priadi pada acara Wadah Silaturahim Khatib Indonesia (Wasathi) di Jakarta, Minggu malam (24/2/19).

Menurut dia, narasi-narasi tersebut menjadi pijakan fundamental bagi upaya pewujudan kondisi kehidupan berbangsa dan beragama. Dengan adanya materi yang menyejukkan, pembangunan bakal berjalan optimal dengan kondisi umat beragama yang jauh dari konflik dan egoisme kelompok.

BACA JUGA :  HP Ulama Disita, Jubir Presiden: Protokolernya Begitu

Saat ini, dirinya melihat terdapat kecenderungan khatib-khatib di beberapa masjid justru menyampaikan materi kepada jemaahnya dengan isu yang mempertajam perbedaan, intoleransi, menebar kebencian, menyampaikan kabar bohong (hoaks), dan konten negatif lainnya.

Peran khatib, kata dia, memiliki arti strategis dalam mengajak jamaahnya untuk tetap berorientasi pada persatuan dan kesatuan bangsa.

Khatib kerap hadir ke tengah umat saat menyampaikan ceramah, seperti saat salat Jumat. Dengan begitu, pesan-pesan ceramahnya tentu sangat penting diperhatikan agar tidak mengadu domba.

“Perbedaan mazhab dan afiliasi politik dalam umat Islam bisa didewasakan dan ditoleransi melalui konten dan khatib Jumat,” kata dia.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini