Presiden Amerika Serikat (USA) Donald Trump (kiri) dan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani (kanan)/Net

telusur.co.id – Presiden Iran Hassan Rouhani mengkritik tajam aksi intervensi militer A.S. di Timur Tengah. Kritikan itu dikeluarkan pada saat kunjungan kenegaraan di Irak, Senin.

Kunjungan ini juga mengirim pesan kuat kepada Washington dan sekutu regionalnya bahwa, dalam menghadapi sanksi AS, Iran masih memainkan peran dominan dalam politik Irak.

Sebelum keberangkatannya, Rouhani mengatakan Iran Syiah bertekad untuk memperkuat hubungan persaudaraan dengan tetangganya.

Ikatan itu “tidak dapat dibandingkan dengan hubungan Irak dengan negara pendudukan seperti Amerika, yang dibenci di kawasan ini,” kata kantor berita setengah resmi Mehr mengutip pernyataannya sebelum ia pergi.

“Kita tidak bisa melupakan bom yang dijatuhkan orang Amerika ke Irak, Suriah, dan negara-negara regional lainnya.”

BACA JUGA :  Seruan Amerika Soal Sanksi Iran Gak Ngaruh, Eropa dan China Cuek Tuh

Selama kunjungan tiga hari serangkaian perjanjian akan ditandatangani dalam energi, transportasi, pertanian, industri dan kesehatan, kata kantor berita Iran, IRNA.

“Kami sangat tertarik untuk memperluas hubungan kami. Khususnya kerja sama transportasi kami,” kata Rouhani di bandara Mehrabad, Teheran.

Seorang pejabat senior Iran yang menemani Rouhani mengatakan kepada Reuters bahwa Irak adalah “saluran lain bagi Iran untuk melewati sanksi Amerika yang tidak adil… Perjalanan ini akan memberikan peluang bagi ekonomi Iran.”

Penurunan tajam dalam ekonomi Iran sejak keputusan Presiden AS Donald Trump Mei lalu untuk menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan enam kekuatan utama telah mendorong para pemimpin negara itu untuk mencoba memperluas hubungan perdagangan dengan tetangga.

BACA JUGA :  Iran Siap Membalas Kebijakan Trump

Perjanjian tersebut mencabut sanksi yang telah diberlakukan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan PBB dengan imbalan Iran mengekang aspek program nuklirnya.

Pemerintahan Trump mengatakan perjanjian itu terlalu murah hati dan gagal mengendalikan kemampuan rudal balistik Iran dan keterlibatannya dalam konflik regional di Suriah dan Yaman.

Penandatangan lain dalam kesepakatan telah berusaha menyelamatkan pakta tersebut, tetapi sanksi A.S. sebagian besar telah membuat perusahaan-perusahaan Eropa takut berbisnis dengan Iran.

Orang Eropa telah berjanji untuk membantu perusahaan melakukan bisnis dengan Iran selama itu mematuhi kesepakatan. Iran sendiri mengancam akan menarik diri dari kesepakatan 2015 kecuali kekuatan Uni Eropa secara nyata melindungi manfaat ekonominya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini