telusur.co.id- Sejak bergulir pertama kali 2015 lalu, turnamen pramusim Piala Presiden erat berkaitan dengan ekonomi kerakyatan. Pasalnya saat itu, sepak bola Indonesia sedang dibekukan FIFA.

Situasi itu otomatis membuat aktivitas ekonomi kerakyatan, yang berkaitan dengan sepak bola, ikut tersendat. Kehadiran Piala Presiden pada 2015 seolah menjadi momen kebangkitan sepak bola Indonesia yang sempat lesu darah.

Sambutan meriah dari insan sepak bola terhadap gelaran Piala Presiden setiap tahunnya pun sangat positif. Hal itu terbukti dengan ramainya suporter yang hadir ke stadion meski Piala Presiden hanyalah turnamen pemanasan sebelum kompetisi resmi berlangsung.

BACA JUGA :  Piala AFF, Ini 24 Pemain Timnas Indonesia

Pemandangan serupa kembali terlihat pada pembukaan Piala Presiden edisi keempat yang bergulir mulai hari ini, Sabtu (2/3/19) di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Piala Presiden kali ini menyuguhkan pertandingan menarik. Meski bukan pertandingan resmi (Liga 1 atau Piala Indonesia), itu tak masalah. Kami pasti akan mengawal Persebaya, apalagi ke Bandung di mana suporter Persib sangat terbuka dan baik pada kami,” kata Bayu, suporter Persebaya, disitat dari laman resmi PSSI.

Saking pedulinya dengan ekonomi kerakyatan, di setiap menit ke-75 selalu diberi informasi tentang jumlah pedagang asongan yang hadir. Pada laga pembuka Persib versus Tira-Persikabo, diinformasikan ada 473 pedagang yang berjualan di sekitar stadion.

BACA JUGA :  PSSI Wujudkan Mimpi Anak-anak Pejuang Kanker

“Alhamdulillah, Piala Presiden memang dinantikan oleh pedagang-pedagang di Bandung yang mencari uang dari pertandingan Persib. Bakso cuanki saya yang di hari biasa habisnya tengah malam, tapi ini baru jam enam sore sudah laris,” kata Dadang, penjual bakso cuanki asal Soreang, Bandung.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini