Jerman - Arab Saudi

telusur.co.id – Arab Saudi selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu regional terpenting Barat, sekaligus konsumen utama industri senjata AS dan Eropa. Rezim Al Saud juga memainkan peran sentral sebagai negara pemasok minyak dan investor besar blok Barat. Pada saat yang sama, negara ini menjadi salah satu pelaku pelanggaran HAM terbesar di dunia.

Negara-negara Eropa besar seperti Perancis, Inggris dan Jerman memiliki hubungan militer dan senjata yang luas dengan Riyadh. Meskipun mereka mengklaim sebagai negara garda depan yang mengusung penegakkan hak asasi manusia, tetapi ironisnya kebanyakan negara Barat masih terus mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi secara masif di Arab Saudi.

Tampaknya, kepentingan ekonomi, terutama kepentingan perusahaan industri senjata Barat, menyebabkan negara-negara ini tidak mengambil tindakan efektif untuk menghentikan tindakan tidak manusiawi Saudi dan mitranya Uni Emirat Arab di Yaman.

Namun, beberapa peristiwa seperti pembunuhan jurnalis oposan rezim Al Saud, Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, dan pelanggaran HAM serius Arab Saudi di Yaman seperti serangan udara terhadap bus sekolah di Yaman memicu reaksi dari publik Jerman, termasuk para pemimpin partai kiri di Jerman dan Parlemen Eropa yang mengadopsi pendekatan lebih ketat terhadap rezim Al Saud.

BACA JUGA :  Tak Terima Dikucilkan, Arab Saudi Ancam Berikan Sanksi Ekonomi

Jerman saat ini mengambil sikap yang lebih keras terhadap Arab Saudi daripada negara-negara Eropa lainnya. Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan penghentian penjualan senjata ke Arab Saudi yang mulai dijalankan akhir 2018. Langkah selanjutnya, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, pada 6 Maret 2019, mengatakan larangan ekspor senjata ke Arab Saudi telah diperpanjang hingga akhir Maret.

Meskipun demikian, pemerintah Jerman menegaskan bahwa ekspor senjata ke Arab Saudi tergantung pada proses perdamaian dan masa depan Yaman.

“Kami telah memutuskan tidak mengirimkan senjata apapun ke Arab Saudi pada bulan Maret. Kami tidak hanya menghentikan ekspor baru ke Arab Saudi, tetapi juga menghapuskan izin ekspor yang telah disetujui untuk negara ini,” ujar Menlu Jerman.

Dia juga menegaskan bahwa keputusan Jerman untuk mengekspor senjata ke Arab Saudi mengikuti perkembangan masa depan Yaman.

Menurut Heiko Maas, langkah ini diambil tidak hanya menyikapi kasus kasus pembunuhan Jamal Khasshoggi, tetapi juga untuk menekan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab supaya berperan dalam proses perdamaian di Yaman.

BACA JUGA :  Malam Ini, Meksiko Tim Pertama Yang Bakal Merasakan Keganasan Der Panzer

Menyikapi langkah Jerman tersebut, Ketua Komisi Tinggi Revolusi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi di akun Twitternya menulis, “Kami memuji sikap positif Jerman dalam memperpanjang larangan ekspor senjata ke Arab Saudi. Keputusan Jerman ini berpijak pada hukum dan perjanjian internasional yang melarang penjualan senjata dan ekspor alutsista kepada penjahat,”.

Di sisi lain tindakan Jerman tersebut dikritik oleh mitra-mitranya di Eropa, terutama Perancis dan Inggris, yang menyerukan kelanjutan ekspor senjata yang diproduksi bersama dengan negara-negara ini. Tapi otoritas Jerman menekankan untuk menghentikan penjualan senjata kepada rezim Al Saud.

“Kami harus membuat perbedaan antara produksi senjata yang kami hasilkan secara independen, dan proyek-proyek bersama yang kami garap,” kata menteri luar negeri Jerman.

Sejatinya, kritik keras Perancis dan Inggris terhadap Jerman mengenai penghentian penjualan senjata ke Arab Saudi menunjukkan sejumlah negara Barat lebih mengedepankan kepentingan ekonomi daripada penegakkan hak asasi manusia yang mereka gembar-gemborkan selama ini. (fhr)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini