telusur.co.id- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan, Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) sama sekali tidak menggantikan Ujian Nasional (UN). AKSI tersebut hanya sebatas wacana.

“Ada wacana AKSI menggantikan UN, baru sebatas wacana. Untuk realisasinya belum kearah situ. Untuk sementara ini belum menggantikan UN dengan AKSI,” kata Kasubag Hukum Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, Any Sayeti, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (13/3/19).

Menurut Any, wacana itu muncul, karena pendidikan Indonesia masuk kategori rendah. Berdasarkan tes Programme for International Student Assessment (PISA) bahwa Indonesia kalah bersaing dengan negara lain, menempati posisi paling rendah. Hasil survei PISA pada 2015 menunjukkan Indonesia menduduki peringkat 69 dari 76 negara.

BACA JUGA :  KAMMI Minta Indonesia Tegas Kepada Cina Soal Diskriminasi Muslim Uighur

Bagi Any, wacana itu sebagai upaya Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air.

“Aksi ini hadir untuk menjawab mengapa nilai PISA Imdonesia di rangking bawah,” bebernya.

Any menerangkan, AKSI tersebut tidak membebani para siswa dan tidak mempengaruhi hasil belajar. AKSI, menggunakan sistem Higher Order Thingking Skil (HOTS) untuk menghadapi tes PISA.

“Siswa oleh gurunya pasti diberi Bimtek. Siswa dilatih mengerjakan soal Higher Order Thingkin Skill. PISA hanya memetakan kemampuan HOTS siswa terutama menghadapi tes PISA,” tandasnya.[Far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini