Muhammad Natsir/Istimewa

i
Oleh M. Natsir
(Tausiyah kepada Muktamirin Jam’iyyah Persatuan Islam, 5 Mei 1990)

BERSYUKUR kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas dapatnya kita keluarga Persatuan Islam bertemu di hari-hari ini dalam rangka bermuktamar.

Zaman yang ditempuh semenjak Persatuan Islam dilahirkan lebih dari enam dekade yang lalu. Ia mengalami peralihan dari zaman ke zaman silih berganti. Zaman penjajahan oleh Belanda, zaman pendudukan Jepang, zaman perjuangan kemerdekaan, zaman meletakkan dasar-dasar bagi hidup bernegara, dengan segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi, disamping hasil yang harus kita syukuri.
إن الزمان قداستدار
Sesungguhnya zaman beredar, musim berganti”.
Begitulah peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya pada “ibadah haji yang terakhir”
yang Rasulullah tunaikan bersama umat dipadang Arafah itu.

Pada permulaan khutbahnya Rasulullah menerangkan, “tak tahu apakah beliau akan bertemu di padang Arafah di tahun yang akan datang”. Lalu beliau selingi kalimat-kalimat beliau yang amat dalam artinya, tapi mudah difahami. dengan pertanyaan yang menggugah pemikiran dan memikat perasaan umat pendengar:
ألا هل بلغت؟ الهم فاشهد
Apakah sudah aku sampaikan apa yang harus aku sampaikan? Ya Allah maka saksikanlah itu.”

Umat menyambut dengan perasaan terharu: “Memang sesungguhnya Engkau sudah sampaikan!” Lantas Rasulullah berkata:
فليبلغ الشاهد الغائب
“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.“
Begitu berulang beberapa kali. Akhirnya Rasulullah menutup khutbahnya dengan mengkhulasahkan apa isi Risalah yang telah disampaikan selama kurang lebih 23 tahun itu.


“Aku telah tinggalkan bagimu dua ‘barang, yang kalau kamu berpegang teguh padanya, kamu pantang akan tersesat! Yakni: Kitabullah dan Sunnah nabi”.

Dua hal yang merupakan satu kesatuan, tak terpisahkan.
كتاب الله وسنة نبيه

Maka justru keinginan hendak berpegang (tamassuk) pada Kitabillah wa Sunnati Nabiyyihi inilah yang menggerakkan beberapa pemuka Islam untuk membentuk satu jama’ah yang dinamakan Persatuan Islam, pada tahun 1923 itu.
Ini memerlukan pengkajian Al-Qur’an dan Sunnah yang lebih mendalam dan mengembangkan ruh-ijtihad untuk menghadapi bermacam-macam masalah dan keadaan yang silih berganti. 
Itulah Risalah yang hendak didukung oleh Persatuan Islam, baik sebagai anggota, simpatisan, pribadi ataupun oleh PERSIS sebagai organisasi.

Satu tahun sesudah didirikan, datang seorang “alim”, Tuan Ahmad Hassan ke Bandung yang selangkah demi selangkah mendorong, membimbing dan merintiskan jalan bagi fiatin qalilah ini, yang pada permulaanya hanya terdiri dari beberapa yaitu: K.H.M. Zamzam, K.H.M.Yunus, Tuan A.Hassan, disusul oleh KH. Moenawar Chalil, K.H. E. Abdurrahman, K.H.Qomaruddin Saleh, Sabirin, Fachruddin al Kahiri, M. Isa Anshari, M. Rusyad Nurdin, Firdaus AN dan saya sendiri. Mereka semua sebagian besar mendahului kita, berpulang ke rahmatullah. .

Semoga Allah menerima amal shaleh mereka dan mengampuni kesalahan mereka, jika ada. Amiin, Ya Rabbal ‘Alamiin.
Alhamdulillah, kekosongan-kekosongan segera diisi oleh generasi berikutnya, antara lain: K.H.E. Abdullah, K.H.I Sudibdja. H.E.Bahrum, H.Nahrawi, H.M.Saleh, H.Eman Sar’an, H.Yahya Wardi, sampai kepada pimpinan Persis sekarang ini, yang kita sudah sama-sama ketahui.

BACA JUGA :  Di Depan Pasukan Kokam, Hidayat Puji M Natsir

Saya membatasi diri pada menyebut nama-nama pelopor-pelopor, dalam dua generasi pertama. Adapun yang seterusnya, masih banyak dapat dilihat di antara kita sekarang ini.
Dan bila kita melihat di sekeliling kita sekarang ini kita dapat melihat wajah-wajah yang menimbulkan harapan bilamana ada yang patah, di sana ada tunas yang tumbuh sebagai, pengganti. Insya Allah.

Sekarang kita berhimpun dalam muktamar ini, meningkatkan niat kita untuk melanjutkan khittah perjuangan yang telah diniatkan oleh para pendiri itu. Agar patah tumbuh hilang berganti. Dengan do’a, semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan dan menganugerahi kekuatan lahir dan bathin untuk melaksanakan tugas kita di tempat masing- masing Li i’lai Kalimatillah berhadapan dengan rintangan dan tantangan (Tahaddiyaat) yang senantiasa dijumpai oleh setiap mujahid.

Setelahnya ada Tuan A.Hassan, di tengah-tengah pemimpin-pemimpin pelopor pertama itu. meningkatlah kegiatan Persatuan Islam. Dimulai dengan mengisi kekosongan-kekosongan, yang belum cukup digarap oleh lain-lain organisasi-organisasi Islam. Antara lain:

  1. Memanggil jamaah Islam untuk menyesuaikan pelaksanaan ibadah dan muamalahnya dengan Quran dan Sunnah Rasul untuk ini antara lain diterbitkan majalah _Pembela Islamyang setiap terbit memuat rubrik __Soal Jawab tentang masalah- masalah fiqh membersihkan _mabda’-mabda’_dan amal dari taqlid dan khurafat.
  2. Menghadapi kegiatan gerakan salib yang merupakan tantangan bagi Islam terutama di kalangan masyarakat Islam yang lemah-lemah di bidang ilmu dan penghidupan sehari-hari.
  3. Menghadapi paham paham sesat yang di kalangan umat Islam sendiri seperti paham Ahmadiyah, Atheisme, dan Komunisme.
  4. Perkembangan sejarah pun mendorong kelompok Persis untuk membahas persoalan politik yaitu menjawab pertanyaan apa dasar kita dalam gerakan mencapai kemerdekaan.
    Apabila anggota keluarga Persis sekarang ini menelaah majalah- majalah Persis, seperti Pembela Islam dan Al Lisaan beserta kitab yang diterbitkan di tahun tahun 1930-an akan dapat mereka rasakan di mana kedudukan Persatuan Islam dalam simpang siur pendapat dan gagasan di bidang agama sosial dan politik di waktu itu.
    Saya anjurkan agar terutama angkatan muda Persatuan Islam melakukan penelitian di bidang perlombaan mabda’ dan konsep perlombaan pemikiran yang subur dan sengit dalam dasawarsa 1930-an itu. Perlombaan ini terus hidup dan bertemu kembali dalam persiapan menyusun UUD sementara Republik Indonesia dan dalam sidang sidang Konstituante dalam tahun tahun 1950-an yang ternyata dibubarkan sebelum berhasil.
    Peredaran zaman berjalan terus pergantian musim belum berhenti
    إن الزمان قد استمر
    Kalau tadinya ada Ahmadiyah yang baru mulai, sekarang di samping itu ada Syi’ah ada Darul Arqom model Malaysia ada Inkarus Sunnah. Apa yang dihadapi oleh Wali Songo tadinya berupa kepercayaan-kepercayaan regional terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih hidup malah memperoleh kesempatan untuk lebih berkembang sekarang ini.
    Ini semua adalah ujian-ujian bagi umat Islam seluruh Indonesia. Jam’iyyah Persatuan Islam tidak dapat dan tidaklah boleh menurut mabda’nya sendiri bila melepaskan diri dari ujian itu dengan pura-pura tak tahu adanya rintangan dan tantangan dalam hidup duniawi ini yang adalah sunatullah.Itu semua adalah batu ujian untuk menentukan berapa tinggi atau rendahnya mutu dan nilai kita masing-masing (Q.S. Muhammad: 31).
    Kadang-kadang ujian berupa kesulitan-kesulitan dan kesempitan hidup yang menyesakkan nafas, di samping itu tidak kurang pula ujian berupa kesenangan dan kekayaan yang meruntuhkan akhlak
    ونبلوكم بالشر والخير فتنة وإليها ترجعون
    “Dan kami coba kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai ujian itu ada kami kamu akan dikembalikan.”
    Begitu peringatan Allah. Kita yakin bahwa seluruh muktamirin sudah mengetahui dan malah mengalami bermacam gejala tantangan-tantangan itu. Maka cepat sekali pimpinan muktamar mencantumkan dalam program sidang muktamar acara yang berjudul “tahaddiyaat.
    Kita mengharapkan agar dalam muktamar yang dimulai sekarang ini kita dapat menyusun rencana kerja yang praktis dan berkesinambungan untuk menghadapi tahaddiyaat itu.
    Kalau tidak dapat semua sekaligus, sebagian demi sebagiannya.
    Akhirul kalam ada satu hal yang lebih-lebih di masa seperti sekarang ini tidak boleh diabaikan yaitu membersihkan penyakit wahn_dari jiwa kita masing-masing.
    Sama-sama kita simaklah kembali satu percakapan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para sahabat yang memperingatkan pada satu tantangan yang bisa tumbuh pada diri kita masing-masing.
    Rasulullah memulai percakapan itu dengan memperingatkan bahwa: “akan datang suatu zaman, di mana umat umat lain akan memperebutkan kamu, hampir-hampir ibarat segerombolan orang rakus, berkerumun di sekitar hidangan makanan.” Bertanya seorang sahabat: “Apakah lantaran kita berjumlah kecil?” Dijawab oleh Rasulullah, bukan. Jumlahmu besar, akan tetapi kualitasmu adalah seperti buih yang terapung-apung di atas air bah. Bertanya seorang di antara sahabat. Kenapa jadi begitu?
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambung
    ولئن عن الله من صدور عدوكم المهارة منكم وليقذفنفي قلوبكم الوهن
    Lantaran telah tercabut rasa takut dari hati lawanmu, dan telah tertanam kelemahan jiwa pada hatimu itu. “Dengan apa itu?” tanya sahabat. Maka dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    حب الدنيا وكراهية الموا
    Rakus kepada dunia dan takut kepada mati.”
    Dengan logat biasa: candu kepada kesenangan, dan takut kepada risiko. Sekalipun kesenangan dan rusiko itu hanya berupa impian….
    Bila “wahn” sudah menguasai kita, tak satupun di lapangan pembinaan dan pembelaan umat yang dapat kita lakukan. Sekalipun banyak rencana muluk-muluk.
    Asal kita mulai. Dengan berdo’a, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk. Maka kita sama-sama pantangkanlah wahn itu!
    Kita yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak meninggalkan hamba- hamba-Nya yang sedang berjuang pada jalan-Nya.[***]
BACA JUGA :  Putri Pahlawan Nasional M Natsir, Raih Award Kaukus Perempuan Politik Indonesia

Garut, Mei 1990. Sumber, Media Da’wah Juni 1990

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini