Ilustrasi

“5,4,3,1.” Begitu Pak Presiden ambil aba-aba menghitung mundur melepas Jalan sehat di Kendari.

Mana angka dua? Bapak lupa? Atawa Sengaja dilupakan? raungan pertanyaan yang muncul di otak kita.

Dalam riuhnya kampanye Pilpres sekarang, jangankan bergaya atau pose untuk selfi, menyebut angka dua saja akan menimbulkan lautan tafsir, makna, dan seterusnya.

Memang, angka dua kini identik dengan nomor urut milik rivalnya Pak Jokowi, Prabowo-Sandi. 

Ketika kita masih Sekolah Dasar (SD), belajar menghitung itu dimulai dari angka 1,2,3,4,5 dan seterusnya. Bisa juga dari angka nol.  

Sebagai perumpamaan, dalam memberi aba-aba untuk memulai suatu perlombaan, Pak Kades berhitung pasti berurutan. Bisa dari depan, atau hitung mundur. Misalnya, 1,2,3 atau 3,2,1, mulai….

Pak Kades tidak mungkin, ketika berhitung langsung melompat atau “mengkorupsi” angka dua untuk dipendam. Agar penduduknya tidak ingat dengan angka dua.

Pertanyaanya, emang masyarakat, penonton, peserta lomba, buta angka? Kan tidak.

Minimal, jika masih ada masyarakat yang mungkin buta huruf, tapi tak mungkin buta angka. Coba saja suruh hitung duit, pasti bisa.

Atas hitungan “melompat” Pak Kades ini, tentu para kontestan lomba akan kebingungan. Mungkin perkiraan mereka, Pak Kades ingin membuat lelucon stand up comedy, supaya para penonton terhibur, tertawa terpikal-pikal.

Namun, lagi-lagi kontestan juga akan saling toleh.  “Pak Kades ini bisa berhitung nggak,” begitu mungkin gumam para kontestan.

Contoh lain terkait angka dua. Ketika ramainya kaum milenial, mengadrungi film drama-drama Korea yang berepisode-episode itu, ada pose dua jari dikenal dengan sebutan Heart finger pose.

Pose ini sering dilakukan oleh idol K-Pop untuk menunjukkan rasa terimakasih atau cinta kepada fansnya. Caranya, menempelkan jari telunjuk dengan jempol

Tak hanya itu, sekarang lagi tenar-tenarnya juga pose jari telunjuk dan jari tengah, diacungkan di tengah-tengah dada, disamping bahu. Termasuk, pose bentangan jempol dan telunjuk yang menyangga dagu, atau gaya menembak.

Namun, cerita lainnya, yang sempat bikin heboh adalah ketika orang ingin berpose dua jari saat berfoto dengan Pak Jokowi, ada petugas yang siap-siap menurunkan jari-jari tersebut.

Kemudian, kemalangan pose dua jari, masih basah diingatan kita peristiwa sesi foto penutupan IMF – World Bank Annual Meeting di Bali, tahun lalu.  Dimana, ada pihak yang tukang koreksi pose acungan dua jari dari petinggi-petinggi IMF dan Bank Dunia tersebut.

Ketika mengoreski, tanpa sadar, microphone masih menyala. Sehingga percakapan pun terdengar lantang. Ramailah jagat media social dibuatnya.

Gara-gara angka dua ini juga, sekelompok orang yang sudah mapan di lingkaran kekuasan menjadi “baperan”.  Sekelompok orang ini getar-getir. Karena, elektabilitas kekuasaan seolah-olah telah “dijagal”. Serba sensitif jadinya.

Begitu malangnya jadi angka dua ditahun politik…

Sinisme symbol dua, barangkali akan  berhenti usai pencoblosan 17 April 2019. Tapi, yang luput dari perhatian kita, kampanye Pilpres, hanya terjadi lima tahunan.

Ingat, menjaga dan menjamin keharmonisan bermasyarakat adalah tugas kita bersama. Dan, itu dilakukan tanpa mengenal waktu.  

Kita boleh berbeda dalam politik, namun jangan sampai perbedaan itu menjadi kontra produktif. “Membunuh” kehangatan berwarga negara. Mencabik-cabik persatuan anak bangsa.  Itu tidak boleh terjadi.

Dalam demokrasi, perbedaan adalah hal lumrah. Begitupun kebebasan berpose.  Baik pose satu jari, atau dua jari. Biarkan ia bebas. Dan, mari berikan pendidikan politik yang sehat kepada para penerus bangsa, dengan tidak “menghukum” angka-angka..!!![***]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini